Inflasi September 3,28 Persen, Menkeu Sebut Ekonomi Mulai Bergerak

Inflasi September 3,28 Persen, Menkeu Sebut Ekonomi Mulai Bergerak

Fajarasia.id  – Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai inflasi Indonesia pada September 2026 yang mencapai 3,28 persen secara tahunan atau year on year (yoy) masih berada dalam batas yang sehat. Menurut dia, angka tersebut mencerminkan aktivitas ekonomi masyarakat yang terus bergerak.

Penilaian itu disampaikan Suahasil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (1/10/2026).

“Jadi menunjukkan gerak ekonomi masyarakat itu bergerak. Dan kalau kita lihat jenis-jenis barangnya, yang namanya inflasinya menurut saya sangat sehat,” kata Suahasil.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kenaikan harga secara tahunan terjadi pada seluruh kelompok pengeluaran.

Inflasi tertinggi tercatat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 7,77 persen. Disusul kelompok transportasi sebesar 4,84 persen serta makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,37 persen.

Sementara itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran mengalami inflasi 2,70 persen. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 2,19 persen.

Adapun kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan tercatat 1,83 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya 1,81 persen, pendidikan 1,43 persen, serta pakaian dan alas kaki 1,20 persen.

Untuk kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, inflasi tercatat sebesar 1,02 persen. Sementara kelompok kesehatan mengalami kenaikan harga sebesar 2,24 persen.

Meski terjadi kenaikan harga di berbagai kelompok pengeluaran, Suahasil menilai inflasi September masih sesuai dengan sasaran yang telah diperhitungkan pemerintah.

“Di angka 3,28 persen itu angka yang sangat-sangat kita comfortable karena ada di dalam range target inflasi kita,” ujarnya.

PMI Manufaktur dan Surplus Perdagangan

Selain inflasi, Suahasil juga menyoroti sejumlah indikator yang menurutnya menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih terjaga.

Salah satunya adalah indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang mencapai 52,4. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.

Menurut Suahasil, angka PMI di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi. Kondisi itu mengindikasikan pelaku industri mulai meningkatkan pembelian barang untuk mendukung rencana peningkatan produksi.

“Yang berarti adalah angka yang menunjukkan para industri ini mulai membeli barang karena ingin ekspansi produksi,” jelasnya.

Indikator lainnya terlihat dari neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatatkan surplus sebesar 3,5 miliar dollar AS.

Suahasil menyebut kombinasi inflasi yang masih berada dalam sasaran pemerintah, peningkatan aktivitas manufaktur, dan surplus perdagangan menjadi sejumlah indikator ketahanan ekonomi nasional.

“Nah ini adalah indikasi-indikasi yang baik. Fundamental ekonomi kita, resiliensi perekonomian kita itu terlihat, gerak ekonominya terlihat dalam angka-angka statistik,” pungkasnya.****

Pos terkait