RI Bidik Produsen Keramik Nomor 4 Dunia, Gas Jadi Kunci

RI Bidik Produsen Keramik Nomor 4 Dunia, Gas Jadi Kunci

Fajarasia.id — Industri keramik Indonesia berpeluang menggeser Vietnam dan naik ke peringkat keempat sebagai produsen keramik terbesar dunia pada 2027. Namun, ambisi tersebut bergantung pada kepastian pasokan gas, perlindungan dari praktik perdagangan tidak sehat, serta peningkatan kapasitas produksi dalam negeri.

Industri keramik nasional saat ini menempati posisi kelima dunia, naik dari peringkat ketujuh. Berdasarkan publikasi Ceramic World Review, Indonesia berada di bawah China, India, Brasil, dan Vietnam.

Menteri Perindustrian M Sarmuji mengatakan, industri keramik nasional memiliki kemampuan memproduksi hampir seluruh jenis keramik, kecuali produk dengan spesifikasi yang sangat khusus. Potensi tersebut perlu didukung kebijakan pemerintah agar industri dalam negeri mampu tumbuh dan bersaing di pasar global.

“Berita gembiranya, industri keramik kita berkembang sangat baik. Hampir semua jenis keramik bisa diproduksi, kecuali yang sangat khusus ya. Jadi kita punya kapasitas, kemampuan untuk memproduksi jenis keramik yang sangat banyak,” kata Sarmuji di kantornya, Jakarta, Kamis (22/10/2026).

Menurut dia, pemerintah terus memperkuat perlindungan industri nasional melalui penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan pengendalian impor. Pemerintah juga membuka peluang pengenaan bea masuk antidumping terhadap produk impor yang terbukti melakukan praktik perdagangan tidak sehat.

Kebijakan tersebut diharapkan memberikan ruang bagi produsen lokal untuk meningkatkan produksi sekaligus memperkuat daya saing.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto menilai, kebijakan perlindungan industri berkontribusi terhadap peningkatan pemanfaatan kapasitas produksi keramik nasional.

Menurut Edy, penerapan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dan pengetatan SNI untuk produk impor membantu meningkatkan utilisasi industri keramik dalam negeri.

“Menurut kami sangat efektif sehingga kami bisa meningkatkan utilisasinya,” ujar Edy.

Ia menyebut kapasitas terpasang industri keramik nasional pada 2026 mencapai 686 juta meter persegi. Tingkat utilisasi diperkirakan meningkat dari 73 persen pada 2025 menjadi 75 persen pada 2026, setara dengan produksi sekitar 510 juta meter persegi.

Dengan dukungan pasokan gas yang memadai dan berkelanjutan, Edy optimistis Indonesia memiliki peluang menyalip Vietnam pada tahun depan.

“Sehingga tahun depan mungkin kita bukan nomor 5 nih, bisa nomor 4 dunia mengalahkan Vietnam,” katanya.

Untuk menopang pertumbuhan industri, ASAKI menyiapkan ekspansi tahap kedua pada periode 2026–2028. Rencana tersebut mencakup penambahan kapasitas produksi sebesar 110 juta meter persegi dengan kebutuhan investasi diperkirakan mencapai Rp12 triliun.

Ekspansi itu berpotensi menciptakan sekitar 7.000–7.500 lapangan kerja baru.

Selain investasi industri, peningkatan permintaan dari sektor perumahan juga diperkirakan menjadi pendorong pertumbuhan. ASAKI memperkirakan program pembangunan tiga juta rumah pada 2027 dapat meningkatkan kebutuhan keramik secara signifikan.

Dengan asumsi rumah yang dibangun bertipe 36, kebutuhan keramik diperkirakan mencapai 108 juta meter persegi.

Menurut Edy, permintaan tersebut berpotensi mendorong utilisasi industri dari target 75 persen menjadi 90 persen apabila program berjalan sesuai rencana dan kebutuhan keramik dipenuhi dari produksi dalam negeri.

“Artinya industri keramik ini saatnya menyiapkan diri untuk investasi terus, didukung sama program beliau,” ujarnya.

Meski memiliki peluang memperkuat posisi di pasar global, industri keramik masih menghadapi tantangan berupa kepastian pasokan energi. Gas merupakan salah satu faktor penting dalam proses produksi sehingga kelancaran pasokannya berpengaruh terhadap biaya operasional dan kemampuan pabrik meningkatkan kapasitas.

Karena itu, pelaku industri berharap pemerintah tidak hanya mempertahankan kebijakan perlindungan dari produk impor, tetapi juga memastikan ketersediaan gas dengan pasokan yang stabil dan kompetitif.

Edy menilai perkembangan industri keramik menunjukkan pentingnya keselarasan kebijakan pemerintah dengan kebutuhan pelaku usaha.

“Jadi kita berikan bukti bahwa begitu regulasi kebijakannya tepat, produk dalam negeri dilindungi, industri keramik terlindungi dari praktik dumping yang tidak fair dari China, industri pasti akan bertumbuh,” katanya.

Dengan kapasitas produksi yang terus berkembang, rencana investasi baru, dan potensi permintaan dari sektor perumahan, Indonesia memiliki peluang memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama industri keramik dunia. Namun, pencapaian peringkat keempat tetap bergantung pada realisasi investasi, pertumbuhan produksi, dan kepastian pasokan gas.****

Pos terkait