Fajarasia.id — PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatat potensi kehilangan laba hingga Rp 14,5 triliun akibat realisasi pasokan batu bara untuk kebutuhan domestik (Domestic Market Obligation/DMO) yang melampaui ketentuan. Perseroan mengalokasikan lebih dari 54% produksi untuk pasar dalam negeri, jauh di atas batas minimum 25% yang ditetapkan pemerintah.
Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, menjelaskan angka tersebut dihitung berdasarkan akumulasi periode 2018–2025. “DMO yang dipersyaratkan seharusnya 25%, tetapi PTBA selalu melaksanakan lebih dari 54%. Dampaknya, profit turun sekitar Rp 14,5 triliun,” ujarnya, Rabu (16/9).
Pada 2026, PTBA menargetkan alokasi DMO sebesar 17,7 juta ton. Hingga Agustus, realisasi sudah mencapai 12,8 juta ton atau 45% dari total produksi. Semester I-2026, porsi domestik tercatat 51% untuk memasok PLN, pembangkit mulut tambang, industri pupuk, dan semen, sementara ekspor 49% dengan tujuan utama Vietnam, Bangladesh, Kamboja, dan India.
PTBA menilai beban DMO lebih besar karena banyak perusahaan tambang swasta belum optimal memenuhi kewajiban. Akibatnya, PTBA menjadi tumpuan utama pasokan batu bara nasional. “Kami mohon dukungan agar DMO dikelola secara fair, sehingga tanggung jawab dipikul bersama,” tegas Bambang.
Meski menghadapi beban DMO, PTBA tetap mencatat kinerja positif. Semester I-2026, laba bersih melonjak 218% menjadi Rp 2,65 triliun, didorong pemulihan operasional dan peningkatan ekspor di tengah tren kenaikan harga batu bara global. Pendapatan perusahaan tumbuh 8% menjadi Rp 22,03 triliun.****





