Fajarasia.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) terus menjadi sorotan. Hingga 14 September 2026, total lahan terbakar mencapai 48.536 hektare. Angka ini merupakan gabungan data SiPongi sebesar 38.310 hektare dan hasil pengukuran lapangan BNPB sepanjang Agustus–September 2026 sebesar 10.224 hektare.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menyebut masih ada 19 titik api dengan estimasi luas terbakar 261,5 hektare. Dari jumlah itu, 180,8 hektare berhasil dipadamkan oleh Satgas Darat dan Satgas Udara, sementara 80,7 hektare masih ditangani.
BNPB mengerahkan 14.759 personel Satgas Darat, lima unit operasi modifikasi cuaca, serta sembilan helikopter water bombing. Namun, operasi udara terkendala jarak pandang rendah. Bantuan helikopter CH-47 Chinook dari Jepang pun belum bisa digunakan karena visibility di bawah 1 km di sejumlah wilayah, termasuk Pontianak, Ketapang, dan Singkawang.
Selain Kalbar, karhutla juga melanda provinsi lain: 19.851 hektare di Riau, 19.303 hektare di Kalimantan Selatan, 15.976 hektare di Kalimantan Tengah, 6.552 hektare di Sumatra Selatan, 5.761 hektare di Kalimantan Timur, dan 2.998 hektare di Jambi. BNPB menegaskan pemadaman dilakukan secara massal dengan mengutamakan Satgas Darat yang diperkuat Satgas Udara.
Kualitas udara di Kalbar masih buruk akibat polutan karhutla. BMKG memprediksi konsentrasi polutan pekat akan bertahan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, serta menyebar ke Sumatra dan Papua. BNPB mengimbau masyarakat menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.****





