Fajarasia.id — Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA), Bambang Ismawan, membeberkan kondisi cadangan batu bara perusahaan yang relatif kecil dibandingkan total cadangan nasional. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (16/9), ia menyebut PTBA memiliki sumber daya 5,71 miliar ton dan cadangan 2,88 miliar ton.
Jumlah tersebut hanya setara 9,01% dari cadangan nasional yang mencapai 97,96 miliar ton, sementara porsi sumber daya PTBA sekitar 5,83%. “Cadangan nasional 97,96 miliar ton, tetapi PT Bukit Asam hanya 2,88 miliar ton,” ungkap Bambang.
Ia menilai kondisi ini memprihatinkan mengingat PTBA merupakan satu-satunya perusahaan batu bara milik negara. Dari sisi produksi, PTBA berada di peringkat kelima nasional, di bawah Bumi Resources, Adaro Indonesia, Bayan Group, dan Sinar Mas Group.
Selain itu, Bambang menyoroti kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) yang ditetapkan minimal 25% dari produksi. Namun, PTBA selama ini selalu merealisasikan DMO jauh di atas ketentuan, bahkan mencapai lebih dari 54%. “Dari 2021 sampai 2025, realisasi DMO selalu dua kali lipat dari batas minimum,” ujarnya.
Kondisi cadangan yang terbatas serta beban DMO berlebih membuat PTBA harus menanggung risiko penurunan profit, sekaligus menjadi tumpuan utama pasokan batu bara nasional.****





