Fajarasia.id – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak membeberkan sejumlah kendala yang dihadapi tim gabungan dalam upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo.
Emil menjelaskan, faktor cuaca berupa kabut menjadi hambatan utama operasional helikopter water bombing di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Dua unit helikopter BNPB yang dikerahkan, yakni PK-DAP berkapasitas 1.000 liter dan Super Puma PK-DAN berkapasitas 4.000 liter, sempat menghentikan operasi pada siang hari karena jarak pandang terbatas.
“Helikopter tidak bisa beroperasi di malam hari, sehingga penanganan api saat itu sepenuhnya bergantung pada petugas darat dengan alat manual,” ujar Emil, Selasa (11/8). Petugas di lapangan tetap berjibaku menggunakan gepyok dan unit pemadam kebakaran yang dikoordinasikan BPBD Jawa Timur bersama BPBD kabupaten/kota sekitar.
Emil menambahkan, titik kebakaran yang sempat terkendali kembali meluas dengan cepat sehingga membutuhkan dukungan helikopter. Pengerahan armada udara yang dikoordinasikan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa dinilai membantu mencegah kebakaran meluas lebih masif.
Per Senin (10/8), titik api di Puncak P-30 sudah terkendali, sementara di Dingklik dan Penanjakan menunjukkan tren penurunan. Meski kondisi membaik, Emil menegaskan kesiagaan tetap dijaga, termasuk kelengkapan unit Damkar, alat manual, serta perlengkapan pelindung diri bagi petugas yang berhadapan langsung dengan asap tebal.
Kebakaran di kawasan Bromo bermula pada Senin (3/8) dan hingga kini telah membakar sekitar 742 hektare. Operasi pemadaman melibatkan tiga helikopter, satu drone, delapan unit Damkar, serta ratusan personel gabungan.***





