Harga Cabai Meledak, Kementan Singgung Dugaan Spekulan

Harga Cabai Meledak, Kementan Singgung Dugaan Spekulan

Fajarasia.id  – Lonjakan harga cabai rawit yang terjadi serentak di ratusan daerah mulai menjadi sorotan pemerintah. Di tengah kenaikan harga yang terus berlanjut, Kementerian Pertanian (Kementan) justru menilai persoalan tersebut tidak sepenuhnya dipicu oleh keterbatasan pasokan, melainkan diduga berkaitan dengan tingginya spekulasi harga di pasar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sebanyak 265 kabupaten/kota mengalami kenaikan harga cabai rawit hingga pekan ketiga September 2026. Secara nasional, harga komoditas tersebut mencapai Rp77.596 per kilogram, atau melonjak 29,85 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Harga itu bahkan telah melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) batas atas yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp57.000 per kilogram.

Tak hanya itu, cabai rawit juga menjadi satu-satunya komoditas yang masuk kategori harga tinggi sekaligus mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) yang signifikan berdasarkan matriks pemantauan BPS.

Di sejumlah wilayah, lonjakan harga tercatat lebih ekstrem. Harga cabai rawit di Halmahera Timur mendekati Rp200.000 per kilogram, sementara di Kepulauan Sangihe, Halmahera Utara, Gorontalo Utara, dan Bolaang Mongondow Timur harganya menembus di atas Rp140.000 per kilogram.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Sudi Mardianto, mengatakan produksi cabai rawit nasional sebenarnya masih dalam kondisi cukup. Pada pekan ketiga September, produksi nasional diperkirakan mencapai 132.926 ton.

Sebanyak 79 persen produksi berasal dari Pulau Jawa, sedangkan sisanya tersebar di berbagai sentra produksi di Sumatera, Sulawesi, dan wilayah lainnya.

Namun, menurut Sudi, terdapat kesenjangan harga yang cukup besar antara tingkat petani dan harga yang diterima konsumen. Kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya permainan harga di rantai distribusi.

“Sehingga dengan selisih yang cukup tinggi, itu sebetulnya ada spekulasi harga di situ yang terlalu tinggi,” kata Sudi dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah, Selasa (22/9/2026).

Untuk meredam gejolak harga, Kementan menyiapkan langkah intervensi melalui petani-petani unggulan atau champion di sejumlah sentra produksi, seperti Malang, Sampang, dan Lombok Timur.

Menurut Sudi, kelompok petani tersebut telah siap memasok cabai ke daerah-daerah yang mengalami lonjakan harga guna menjaga kestabilan pasar.

Selain itu, pemerintah juga membuka peluang penyaluran pasokan dari Pulau Jawa ke kawasan Indonesia timur jika diperlukan untuk mengurangi tekanan harga.

Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menilai masalah utama saat ini bukan terletak pada ketersediaan stok nasional. Deputi I Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan, mengatakan stok cabai rawit diproyeksikan mencapai 60.280 ton hingga akhir tahun.

Menurut dia, tantangan terbesar justru berada pada distribusi dan keseimbangan pasokan antarwilayah yang belum merata.

Sebagai bentuk intervensi, Bapanas telah mengirim cabai rawit dari Jawa Timur ke Manado sebanyak 4,9 ton dalam dua tahap sepanjang September.

Pemerintah berencana terus mengoptimalkan pola distribusi serupa dengan memanfaatkan daerah surplus produksi untuk memasok wilayah yang mengalami lonjakan harga. Langkah ini diharapkan dapat menekan disparitas harga cabai rawit yang saat ini masih lebar di berbagai daerah dan membantu menjaga inflasi pangan tetap terkendali.***

Pos terkait