Fajarasia.id – Fakta baru terungkap dalam penyelidikan kebakaran KMP Mutiara Sentosa II di perairan utara Madura. PT Atosim Lampung Pelayaran (ALP) selaku pemilik sekaligus operator kapal mengakui terdapat lima anak yang berada di atas kapal, namun tidak tercantum dalam manifes resmi penumpang.
Kepala Cabang PT ALP Surabaya, Ferdinan Pondang, menjelaskan kelima anak tersebut tidak didaftarkan oleh pembeli tiket atau orang tua mereka saat proses pembelian, sehingga nama mereka tidak masuk dalam daftar manifes yang dimiliki perusahaan.
Menurut Pondang, hingga kini perusahaan masih melakukan pencocokan data manifes dengan kantor pusat. Karena proses verifikasi masih berlangsung, pihaknya belum dapat menyampaikan jumlah pasti penumpang yang tercatat dalam pelayaran rute Surabaya–Makassar tersebut.
Meski demikian, ia membantah adanya kelebihan jumlah penumpang dibandingkan kapasitas atau data manifes. Ia menegaskan seluruh informasi masih diklarifikasi bersama manajemen sebelum dipublikasikan secara resmi.
Temuan mengenai lima anak yang tidak tercatat sebelumnya juga diungkap Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi. Saat meninjau korban di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Dudy menyebut ketidaksesuaian data manifes menjadi salah satu persoalan yang akan dievaluasi secara menyeluruh.
Menurut Dudy, setiap penumpang, tanpa terkecuali, seharusnya tercantum dalam manifes sebagai bagian dari prosedur keselamatan pelayaran. Data yang akurat sangat penting, terutama ketika terjadi keadaan darurat karena menjadi acuan utama dalam proses evakuasi dan pencarian korban.
Kendati demikian, pemerintah memastikan kelima anak yang ditemukan tersebut berada dalam kondisi selamat dan telah berhasil dievakuasi.
Insiden kebakaran KMP Mutiara Sentosa II terjadi saat kapal yang melayani rute Surabaya–Makassar itu berlayar di perairan utara Kabupaten Sumenep, Madura, pada Minggu (2/8/2026). Tragedi tersebut menewaskan lima orang dan memicu perhatian luas terhadap sistem keselamatan transportasi laut nasional.
Berdasarkan data Basarnas, sebanyak 238 penumpang dan awak kapal berhasil dievakuasi dari kapal yang terbakar. Setelah seluruh proses pencarian dilakukan, operasi SAR khusus resmi dihentikan dan dialihkan ke operasi kesiapsiagaan yang dikoordinasikan oleh Kantor SAR Surabaya.
Kasus ini kini menjadi sorotan berbagai pihak, terutama terkait keakuratan data manifes penumpang yang dinilai merupakan elemen mendasar dalam sistem keselamatan pelayaran. Pemerintah bersama instansi terkait berkomitmen melakukan evaluasi menyeluruh guna mencegah terulangnya kejadian serupa di masa mendatang.****





