Fajarasia.id – Tawuran antarkelompok remaja kembali memakan korban jiwa di Jakarta Utara. Seorang pemuda berinisial RM (19) meninggal dunia setelah mengalami luka bacok serius dalam bentrokan yang terjadi di kawasan Cilincing pada Senin (27/7/2026) dini hari.
Korban ditemukan tergeletak di lokasi kejadian dengan luka berat di bagian kepala dan pergelangan tangan. Pihak kepolisian membenarkan insiden tersebut dan menyatakan korban meninggal dunia akibat luka yang dideritanya.
Kapolsek Cilincing AKP Bobi Subasri mengatakan korban telah dimakamkan oleh pihak keluarga. Polisi saat ini masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap identitas serta menangkap para pelaku yang terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, tawuran diduga bermula setelah korban bersama sejumlah rekannya menggelar pesta minuman keras. Usai berkumpul, kelompok tersebut bergabung dengan kelompok lain sebelum menyerang sekelompok pemuda di kawasan RW 13, Kalibaru. Bentrokan kemudian berubah menjadi aksi saling serang menggunakan senjata tajam.
Rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan kedua kelompok saling menyerang di jalanan dengan membawa berbagai senjata tajam. Polisi bergerak cepat membubarkan bentrokan, namun korban sudah mengalami luka fatal.
“Kasus ini masih kami tangani dan proses pengejaran terhadap para pelaku terus dilakukan,” ujar AKP Bobi.
Menyusul kejadian tersebut, Polsek Cilincing menggelar pertemuan bersama pemerintah kecamatan, tokoh masyarakat, pengurus lingkungan, dan perwakilan warga untuk membahas langkah pencegahan tawuran. Kepolisian menegaskan bahwa menjaga keamanan lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat, melainkan memerlukan keterlibatan aktif orang tua, keluarga, pengurus RW, tokoh masyarakat, hingga para remaja.
Sebagai bagian dari upaya antisipasi, Polsek Cilincing berencana mendirikan Pos Pantau di kawasan Tanggul WIKA Pangkalan Pasir, Kalibaru. Pos tersebut akan melibatkan unsur kepolisian, Satpol PP, LMK, FKDM, serta masyarakat untuk melakukan pemantauan pada jam-jam rawan.
Dalam musyawarah tersebut, warga juga mengusulkan penguatan kegiatan positif bagi remaja melalui masjid dan musala, sekaligus mengintensifkan ronda malam dan pengawasan lingkungan. Langkah itu diharapkan dapat menekan potensi tawuran yang selama ini kerap berulang dan menimbulkan korban jiwa.





