Fajarasia.id – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) terus memperkuat program Pelatihan Vokasi Nasional sebagai strategi menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan mampu memenuhi kebutuhan dunia usaha serta industri yang terus berkembang.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor mengatakan perubahan pasar kerja yang berlangsung semakin cepat menuntut tenaga kerja memiliki keterampilan yang relevan sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Menurut dia, pelatihan vokasi tidak hanya berfungsi membekali peserta dengan keterampilan teknis, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk menciptakan tenaga kerja yang produktif dan siap memasuki dunia kerja.
“Pelatihan vokasi bukan sekadar memberikan keterampilan, tetapi menjadi investasi untuk menyiapkan SDM yang siap bekerja, produktif, dan mampu menjawab kebutuhan dunia usaha maupun dunia industri,” kata Afriansyah dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu (26/7).
Pada 2026, Kemnaker menargetkan sebanyak 300.000 peserta mengikuti berbagai program Pelatihan Vokasi Nasional yang diselenggarakan di berbagai wilayah Indonesia.
Target tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas akses masyarakat terhadap pelatihan berbasis kompetensi sekaligus meningkatkan kesiapan tenaga kerja agar sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Selain membuka kesempatan bagi masyarakat umum, program tersebut juga diarahkan untuk membantu pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun mereka yang membutuhkan peningkatan kompetensi agar tetap memiliki daya saing.
Melalui program reskilling dan upskilling, peserta diberikan keterampilan baru yang diharapkan dapat membuka peluang untuk kembali bekerja atau bahkan membangun usaha secara mandiri.
Afriansyah menegaskan pemerintah ingin memastikan masyarakat yang terdampak perubahan ekonomi tetap memiliki kesempatan meningkatkan kemampuan sehingga dapat beradaptasi dengan dinamika pasar kerja.
“Kami ingin memastikan masyarakat yang terdampak perubahan ekonomi tetap memiliki kesempatan meningkatkan kompetensinya. Dengan keterampilan baru, mereka memiliki peluang untuk kembali bekerja atau membangun usaha sendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai penyelenggaraan pelatihan vokasi perlu disesuaikan dengan potensi ekonomi unggulan di masing-masing daerah agar kompetensi yang diperoleh peserta benar-benar relevan dengan kebutuhan pasar kerja setempat.
Sebagai contoh, di Sumatera Barat pengembangan kompetensi difokuskan pada sektor jasa, perdagangan, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi penopang utama perekonomian daerah.
Untuk mendukung keberhasilan program tersebut, Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) juga didorong memperkuat kemitraan dengan dunia usaha, dunia industri, serta pelaku UMKM. Sinergi itu diharapkan mampu meningkatkan penyerapan lulusan pelatihan sekaligus mendorong lahirnya wirausaha baru.
“Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan penyerapan lulusan pelatihan di dunia kerja sekaligus membuka peluang lahirnya wirausaha baru yang dapat menggerakkan perekonomian daerah,” kata Afriansyah.****





