Fajarasia.id — Indonesia disebut memiliki kekayaan sumber daya mineral dan batu bara yang nilainya mencapai sekitar US$4 triliun atau setara Rp71.554 triliun jika menggunakan asumsi kurs Rp17.888 per dollar AS.
Nilai tersebut mencakup potensi kekayaan sektor mineral dan batu bara (minerba). Dari jumlah itu, sekitar dua pertiganya berasal dari komoditas batu bara.
Komisaris Utama PT Aneka Tambang (Antam) Irwandy Arif mengatakan, besarnya potensi batu bara membuat komoditas tersebut masih memiliki peran penting terhadap penerimaan dari sektor pertambangan nasional.
“Kekayaan mineral dan batu bara US$4 triliun, dua pertiga masih dari batu bara. Jadi peran batu bara itu sebenarnya besar kepada penghasilan yang kita dapat,” kata Irwandy dalam sebuah seminar di Jakarta, dikutip Senin (5/10/2026).
Meski memiliki cadangan besar, Irwandy menilai penerimaan yang diperoleh dari batu bara masih relatif kecil dibandingkan nilai kekayaan yang tersimpan. Ia mencontohkan, pemasukan Indonesia dari batu bara pada 2021 mencapai sekitar US$47 miliar atau setara Rp733,9 triliun.
“Kalau dianggap sebagai gambaran tahunan, return of equity-nya sangat kecil, kurang lebih 1,2 persen,” ujarnya.
Sementara itu, berdasarkan catatan Kementerian ESDM, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor minerba pada 2023 mencapai Rp173 triliun. Realisasi tersebut setara 118,41 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp146,07 triliun.
Besarnya potensi batu bara Indonesia juga tercermin dari sumber daya dan cadangan yang tersedia. Berdasarkan data Kementerian ESDM yang dipaparkan Irwandy, sumber daya batu bara Indonesia mencapai 99,19 miliar ton, sedangkan cadangannya sekitar 35,02 miliar ton.
Dengan tingkat produksi sekitar 600 juta hingga 700 juta ton per tahun, cadangan tersebut diperkirakan masih dapat menopang produksi batu bara dalam negeri selama sekitar 70 tahun.
Irwandy mengatakan batu bara masih akan menjadi salah satu sumber energi penting Indonesia dalam beberapa dekade mendatang.
“Batu bara masih menjadi energi utama di Indonesia untuk 10-20 tahun. Kalau saya bilang mungkin sampai 40 tahun, relatif murah,” kata dia.
Menurut dia, batu bara masih memiliki porsi besar dalam bauran energi Indonesia, dengan kontribusi sekitar 42,4 persen, disusul minyak dan gas.
Besarnya sumber daya tersebut sekaligus menunjukkan tantangan Indonesia untuk mengoptimalkan kekayaan minerba agar tidak hanya menghasilkan penerimaan dari eksploitasi komoditas, tetapi juga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.***





