Laba Bersih Bank NTB Syariah Anjlok 97 Persen, Fihir Minta KPK Dan BPK Audit

Laba Bersih Bank NTB Syariah Anjlok 97 Persen, Fihir Minta KPK Dan BPK Audit

Fajarasia.id ,- Laba bersih PT Bank NTB Syariah sepanjang tahun buku 2025 merosot tajam hingga tinggal Rp6,39 miliar, jauh turun dibandingkan capaian tahun 2024 yang mencapai Rp215,8 miliar.

Penurunan hampir 97 persen ini memicu sorotan publik, termasuk dari pegiat transparansi keuangan daerah, Fihirudin menilai anomali tersebut perlu ditelusuri lebih jauh oleh otoritas terkait seperti KPK ,BPK dan Kejalsaan.

Namun pria asal aceh Nazarudin yang menjabat sebagai Dirut Bank NTB memgaku Meski laba bersih terjun bebas, sejumlah indikator fundamental Bank NTB Syariah justru menunjukkan pertumbuhan positif.

“Laba anjlok, tapi aset naik kok, Ucap Nazarudin, Senin (5/10/2016).

Menurutnya, Total aset meningkat menjadi sekitar Rp17,3 triliun, naik dari Rp16,1 triliun pada tahun sebelumnya.

Pembiayaan juga tumbuh hingga Rp12,2 triliun, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) dilaporkan tetap menguat.

Direktur Utama Bank NTB Syariah, Nazaruddin, yang merupakan putra daerah Aceh, menjelaskan bahwa penurunan laba tersebut bukan disebabkan melemahnya bisnis inti, melainkan dampak dari kebijakan pencadangan risiko yang harus diambil manajemen.

Manajemen mencatat adanya lonjakan signifikan pada Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN), terutama untuk mengantisipasi penurunan kualitas pembiayaan pada salah satu nasabah korporasi material.

Kebijakan kehati-hatian ini, menurut Nazaruddin, dilakukan untuk menjaga kesehatan neraca jangka panjang.

Selain itu, proses maintenance layanan mobile banking yang memakan waktu lebih panjang dari biasanya turut menambah beban operasional non-rutin.

“Secara fundamental, kinerja operasional tetap tumbuh. Penurunan laba ini bersifat non-rutin dan merupakan langkah mitigasi risiko,” ujar Nazaruddin.

Namun Fihirudin, salah satu pemerhati mempertanyakan kinerja para komisioner dan direksi Bank NTB Syariah.

Ia menilai penurunan laba yang begitu drastis tidak masuk akal jika dibandingkan dengan pertumbuhan aset dan pembiayaan yang tetap positif.

“Bagaimana mungkin laba turun hampir 97 persen sementara indikator fundamental justru naik? Ini anomali. KPK perlu menelusuri apa yang sebenarnya terjadi,” tegasnya.

Fihirudin juga menyoroti pentingnya transparansi dalam pengambilan keputusan strategis, terutama terkait pencadangan risiko dan pengelolaan pembiayaan korporasi.

Bank NTB Syariah memastikan bahwa penurunan laba tidak mencerminkan melemahnya kinerja bisnis.

Manajemen menyebut langkah pencadangan besar pada 2025 sebagai keputusan yang diperlukan untuk menjaga kualitas aset dan mengantisipasi potensi risiko jangka panjang.

Namun, anjloknya laba tetap memicu diskusi publik mengenai efektivitas pengawasan internal, kualitas manajemen risiko, serta peran komisioner dalam memastikan tata kelola yang sehat.****

 

 

 

Pos terkait