Fajarasia.id – Indonesia kembali menegaskan perannya sebagai pusat pengembangan pendidikan bahasa asing di Asia Tenggara. Delegasi RI yang diwakili Arabic Lingual Center (ARLIC) dan Ikatan Pengajar Bahasa Arab se-Indonesia (IMLA) tampil sebagai pembicara utama dalam Simposium Internasional Bahasa Arab di Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), Brunei Darussalam.
Simposium bertema “Desain Buku Ajar Bahasa Arab bagi Siswa Asia Tenggara” ini mempertemukan akademisi dan praktisi dari Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Forum tersebut menjadi tonggak baru dalam membangun pendekatan pembelajaran Bahasa Arab yang lebih modern, berbasis riset, dan relevan dengan konteks regional.
Salah satu sesi yang menarik perhatian adalah paparan Prof. Abdul Karim Awad Hayaza, Senior Advisor ARLIC, yang memperkenalkan metode Serial Allisan. Metode ini dinilai revolusioner karena mengadopsi pendekatan natural, menyerupai cara anak belajar bahasa ibu: bertahap, terstruktur, dan langsung aktif menggunakan bahasa.
Tim ARLIC mendemonstrasikan bagaimana siswa dapat berbicara Bahasa Arab dengan lancar, percaya diri, dan beraksen natural hanya dalam 150 jam belajar. Rektor UNISSA, Dato Seri Setia Haji Norarfan bin Haji Zainal, Ph.D., bahkan menyatakan minat kuat untuk menjalin kerja sama setelah menyaksikan demo modul elektronik.
Diskusi lanjutan membuka peluang kerja sama, antara lain:
- Implementasi metode Serial Allisan di Brunei.
- Penyelenggaraan Arabic Camp (Qariyah Arabiyyah).
- Program imersi mahasiswa ke Timur Tengah.
Delegasi Indonesia berjumlah 10 orang, terdiri dari pimpinan lembaga, akademisi, dan praktisi. ARLIC dipimpin Alwi Achmad Shahab, didampingi Dr. Andy Hadiyanto (UNJ), Nabiel Abdul Karim Hayaza, Sayyid Hafidz Al-Attas, dan Adam Heckel Quidayan. Sementara IMLA dipimpin Prof. Dr. Uril Bahruddin bersama Prof. Dr. Faisal Mubarak dari UIN Antasari.
Forum musyawarah yang difasilitasi UNISSA menghasilkan tiga keputusan penting tingkat Asia Tenggara:
- Badan Penelitian Regional – pembentukan tim riset bersama untuk mengembangkan materi ajar spesifik bagi siswa ASEAN.
- Standarisasi Buku Ajar – penyusunan kerangka penulisan buku modern, responsif, dan sesuai konteks lokal.
- Jejaring Institusi – penguatan konektivitas antar lembaga pengembangan Bahasa Arab di kawasan ASEAN.
Duta Besar RI untuk Brunei, Prof. Dr. Achmad Ubaedillah, mendukung penuh inisiatif ARLIC dan IMLA sebagai bentuk diplomasi lunak Indonesia di ASEAN. Ia menekankan bahwa Bahasa Arab bukan sekadar bahasa agama, melainkan pintu menuju jaringan keilmuan, ekonomi, dan peradaban global.
“Bahasa Arab membuka peluang karier dan studi di Timur Tengah yang kini sangat kompetitif dan terbuka lebar,” ujar Dubes Ubaedillah.
Rangkaian kunjungan delegasi Indonesia ditutup dengan ziarah ke makam Sultan Sharif Ali, ulama besar keturunan Rasulullah SAW yang dikenal sebagai Sultan ketiga Brunei. Sosok ini berperan penting dalam membangun identitas Brunei modern sekaligus memperkuat syiar Islam.






