Fajarasia.id — Sepekan berlalu sejak lima jurnalis, dua kru kapal, dan seorang pemandu dinyatakan hilang di perairan Selat Sunda. Hingga Selasa (15/9/2026), tim SAR gabungan masih belum menemukan keberadaan kedelapan orang tersebut.
Mereka diketahui sedang melakukan perjalanan untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kontak dengan rombongan terputus pada Senin (7/9) pukul 15.04 WIB.
Sejak laporan kehilangan diterima, berbagai upaya pencarian telah dilakukan. Tim SAR memperluas wilayah penyisiran, mengerahkan armada laut dan udara, hingga menyisir sejumlah pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Berikut perkembangan pencarian setelah berlangsung selama sepekan:
Pada hari ketujuh pencarian, Senin (14/9), tim SAR gabungan mengerahkan 18 kapal dan satu helikopter Basarnas HR-3604.
Kepala Seksi Operasi Basarnas Banten Rizky Dwiyanto mengatakan, pencarian dibagi ke dalam enam sektor dengan total luas mencapai 6.649 mil laut persegi.
Sektor X menjadi wilayah yang mendapat perhatian lebih. Sebanyak 11 kapal dikerahkan ke sektor tersebut karena sebelumnya terdapat sejumlah temuan selama pencarian.
“Untuk sektor X karena memang di wilayah tersebut terdapat beberapa temuan dari mulai hari ketiga hingga kemarin, sehingga itu akan kita lakukan penyisiran ulang dan lebih fokus,” ujar Rizky.
Pencarian tidak hanya dilakukan melalui laut dan udara. Tim SAR juga melakukan penyisiran darat di sejumlah pulau yang berada di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Tiga pulau yang menjadi sasaran penyisiran yakni Pulau Sertung, Rakata Besar, dan Pulau Panjang.
Selain itu, penyisiran juga dilakukan di sepanjang pesisir Pantai Carita hingga Pantai Anyer.
Dalam pencarian hari keenam, tim SAR menemukan sejumlah benda berupa dua terpal, tiga jaket pelampung berwarna oranye, dan satu galon.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, benda-benda tersebut dipastikan tidak berkaitan dengan delapan orang yang masih dicari.
Temuan tersebut belum memberikan petunjuk baru mengenai keberadaan para korban.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebelumnya mengungkap adanya pendeteksian sinyal yang mengarah ke kawasan Pulau Sebesi.
Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria mengatakan, pihaknya berkoordinasi dengan tiga operator seluler untuk memantau sinyal telekomunikasi di sekitar Selat Sunda, baik dari wilayah Banten maupun Lampung.
Berdasarkan data yang diperoleh, titik terakhir yang terdeteksi pada 7 September berada di sekitar Pulau Sebesi.
Informasi tersebut kemudian diteruskan kepada tim SAR untuk menjadi salah satu bahan dalam operasi pencarian.
Setelah mengevaluasi hasil pencarian selama tujuh hari, tim SAR gabungan memutuskan memperpanjang operasi selama tiga hari.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah rapat koordinasi dan mempertimbangkan berbagai hasil evaluasi selama operasi.
“Evaluasi hasil operasi SAR hari ketujuh yang kita laksanakan hari ini masih nihil. Hasil rapat koordinasi, kita akan lanjutkan selama tiga hari ke depan,” ujar Al Amrad, Selasa.
Menurut dia, pencarian tetap dilakukan berdasarkan perhitungan dan perkembangan data dari BMKG serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Proses pencarian juga menghadapi tantangan kondisi alam. Asap vulkanik dari Gunung Anak Krakatau sempat membatasi jarak pandang dan menghambat pencarian melalui udara.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii sebelumnya mengatakan asap vulkanik masih berada pada ketinggian sekitar 1.500 meter ke bawah sehingga pencarian menggunakan pesawat menghadapi keterbatasan visibilitas.
Selain asap, kabut juga menjadi kendala pada pencarian Senin (14/9). Kondisi tersebut membuat jarak pandang di lokasi hanya sekitar satu mil laut.
Meski pencarian selama tujuh hari belum membuahkan hasil, tim SAR memastikan operasi terus dilanjutkan. Perluasan dan penyesuaian sektor pencarian akan dilakukan berdasarkan evaluasi lapangan serta kondisi cuaca dan aktivitas Gunung Anak Krakatau.***





