Fajarasia.id — Pemerintah Indonesia mengajak perusahaan Kanada untuk memanfaatkan peluang kerja sama perdagangan bebas melalui Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA). Kesepakatan ini membuka jalan bagi investasi di sektor strategis, mulai dari energi nuklir hingga kecerdasan buatan (AI).
Dalam forum Canada-ASEAN Business Council (CABC) Executive Dialogue di sela Canada Investment Summit, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan Indonesia menawarkan pasar besar, stabil, dan disiplin dalam mengelola pertumbuhan. “Dialog hari ini penting, karena pelaku usaha seperti anggota CABC-lah yang akan mewujudkan ICA-CEPA,” ujarnya, Rabu (16/9).
Perjanjian ICA-CEPA, yang ditandatangani pada 2025, menjadi kemitraan ekonomi komprehensif pertama Indonesia dengan kawasan Amerika Utara. Kanada akan menurunkan tarif lebih dari 90 persen produk Indonesia, sementara Indonesia melakukan hal serupa untuk 86 persen produk Kanada.
Kesepakatan ini membuka peluang kerja sama di sektor hilirisasi mineral kritis, energi bersih, agri-pangan berkelanjutan, infrastruktur, jasa keuangan, dan digital. Airlangga juga bertemu CEO AtkinsRealis Ian L. Edwards untuk membahas kerja sama energi nuklir, serta CEO Sun Life Kevin D. Strain guna memperkuat kolaborasi sektor keuangan.
Forum turut dihadiri Menteri Perdagangan Internasional Kanada Maninder Sidhu, Menteri Industri Kanada Mélanie Joly, serta sejumlah pemimpin bisnis ASEAN dan Kanada. Delegasi Indonesia dipimpin Dubes RI untuk Kanada Muhsin Syihab bersama jajaran Kemenko Perekonomian.
Langkah ini menegaskan komitmen Indonesia memperkuat hubungan ekonomi bilateral sekaligus membuka pintu bagi investasi teknologi strategis.****





