Fajarasia.id — Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menegaskan pengendalian inflasi tidak semata menekan harga serendah mungkin, melainkan menjaga keseimbangan agar konsumen tetap mampu membeli kebutuhan pokok tanpa mengorbankan kesejahteraan petani dan produsen lokal.
Hal itu disampaikan Tito dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026. Ia menekankan harga yang jatuh terlalu rendah justru dapat melumpuhkan roda ekonomi di tingkat akar rumput. “Inflasi penting untuk menjaga agar harga barang dan jasa tetap stabil. Jangan sampai kenaikan memberatkan masyarakat atau penurunan membuat produsen kesulitan menutup ongkos operasional,” ujarnya, Senin (14/9).
Data rapat menunjukkan inflasi tahunan berada di angka 3,19 persen, dengan inflasi bulanan 0,21 persen. Kenaikan terutama dipicu sektor makanan dan minuman, seperti daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Tito meminta kepala daerah fokus menjaga harga komoditas pokok tersebut.
Kemendagri disebut telah berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memetakan indeks harga di setiap kabupaten/kota. Intervensi dilakukan bersama Badan Pangan Nasional, Kementerian Pertanian, dan Bulog melalui program seperti beras SPHP dan pasar murah.
Tito berharap langkah terukur ini mampu mencegah kepanikan pasar. Dengan pemantauan ketat Satgas Pangan daerah, Bulog, serta kementerian terkait, pemerintah daerah dituntut menjaga harmoni perekonomian agar stabilitas harga benar-benar menguntungkan konsumen sekaligus melindungi petani.****





