Fajarasia.id – Neraca perdagangan barang non-migas Indonesia dengan China kembali mencatat defisit besar sepanjang Januari–Juli 2026. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan defisit mencapai US$17,67 miliar, lebih dalam dibanding periode sama tahun lalu senilai US$13,18 miliar.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut defisit dengan China menjadi yang terbesar dibanding mitra dagang lainnya. Ekspor Indonesia ke China tercatat US$40,62 miliar, jauh lebih rendah dari impor yang mencapai US$58,29 miliar.
Komoditas penyumbang defisit terbesar adalah:
- Mesin dan peralatan mekanik (HS84) dengan defisit US$12,45 miliar.
- Mesin dan perlengkapan elektrik (HS85) dengan defisit US$12,41 miliar.
- Plastik dan barang plastik (HS39) dengan defisit US$3,35 miliar.
Kondisi ini menegaskan ketergantungan tinggi Indonesia terhadap impor barang industri dari China, sekaligus menjadi tantangan bagi pemerintah dalam memperkuat daya saing ekspor nasional.***





