Fajarasia.id – Media sosial tak selalu berujung pada aktivitas belanja secara daring. Bagi Amira, TikTok justru membawanya datang langsung ke Pusat Grosir Asemka, Jakarta Barat, hingga akhirnya membuka peluang usaha baru.
Awalnya, Amira hanya mencari bulu mata untuk kebutuhan pernikahan kakaknya. Ia menemukan informasi mengenai Asemka melalui TikTok dan memutuskan mendatangi kawasan grosir tersebut sekitar tiga bulan lalu.
Namun, kunjungan itu ternyata menghasilkan lebih dari sekadar barang yang dicari.
Amira menemukan pemasok bulu mata yang menurutnya cocok. Dari sana, ia mulai mempertimbangkan untuk menjadikan produk tersebut sebagai barang dagangan.
“Ya saya tahu awalnya dari TikTok, terus tiga bulan lalu itu mau nyari bulu mata buat nikahan kakak saya. Eh ternyata saya malah dapat supplier yang oke,” kata Amira saat ditemui di Asemka, Rabu (9/9/2026).
Sejak itu, Amira rutin mengambil stok dari Asemka sebelum menjualnya kembali secara daring.
Ia mengaku mendapatkan bulu mata dengan harga sekitar Rp 67.000 hingga Rp 120.000 per lusin. Produk tersebut kemudian dikemas kembali dan dipasarkan menggunakan mereknya sendiri.
“Lumayan ya omzetnya. Saya modal beli di sini Rp 67.000-Rp 120.000 selusin, itu saya bisa jual lagi per pack-nya jadi Rp 25.000. Lumayan banget. Saya tinggal rebranding sedikit, tapi sudah oke penjualan,” ujarnya.
Kisah Amira menjadi gambaran bagaimana pola perdagangan di Asemka ikut berubah seiring berkembangnya media sosial.
Jika sebelumnya pasar grosir mengandalkan pembeli yang datang langsung, kini media sosial justru dapat menjadi pintu masuk bagi calon pembeli.
Fenomena ini menjadi menarik karena beberapa tahun lalu perdagangan daring sempat dipandang sebagai ancaman bagi pedagang di Asemka.
Pada 2023, sejumlah pedagang mengeluhkan penurunan jumlah pengunjung akibat semakin maraknya transaksi melalui platform digital. Bahkan, salah satu pedagang kosmetik kala itu menyebut omzetnya turun hingga 70 persen.
Kini situasinya mulai berubah.
Pedagang Asemka, Nina, mengatakan kawasan tersebut kembali merasakan peningkatan kunjungan dalam sekitar setahun terakhir. Salah satu pemicunya adalah konten media sosial, terutama TikTok, yang membuat sejumlah produk di Asemka kembali dikenal.
“Iya, dulu sempat kan kita sepi, sampai ngadu ke Pak Zulhas ya dulu (Menteri Perdagangan). Sekarang mulai ramai lagi sekitar setahun ini, pas banyak konten-konten di TikTok,” kata Nina.
Menurut dia, pengunjung yang datang bukan hanya mencari barang untuk kebutuhan pribadi. Sebagian merupakan anak muda yang mencari produk untuk dijual kembali melalui media sosial.
“Banyak Gen Z datang nyari barang yang viral. Jepitan bintang yang kayak Naykilla, itu paling banyak dicari sekarang,” ujarnya.
Produk yang tersedia di Asemka pun mengikuti perubahan tren. Selain aksesori dan mainan, toko-toko kini dipenuhi barang yang populer di media sosial, seperti slime, squishy, gantungan karakter, blind box, hingga berbagai aksesori rambut.
Peluang tersebut juga dimanfaatkan Teni, reseller slime dan squishy.
Teni sebenarnya sudah mengenal Asemka sejak kecil karena kerap datang bersama orangtuanya. Namun, ia baru kembali berbelanja untuk keperluan usaha sekitar dua bulan terakhir.
Keputusan itu diambil setelah ia terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan harus mencari sumber penghasilan baru dengan modal terbatas.
“Tapi baru coba cari barang ke sini dua bulanan lalu, pas habis kena PHK. Itu muter otak, gimana caranya saya bisa bangun usaha tapi modal kecil,” kata Teni.
Dengan modal sekitar Rp 500.000, ia membeli dua lusin slime untuk dijual kembali.
Di luar perkiraannya, produk tersebut kembali diminati setelah tren slime muncul lagi di media sosial.
“Kayaknya waktu itu saya modal Rp 500.000, modal ambil dua lusin slime. Enggak nyangka laku, karena ternyata hype lagi si slime itu,” ujarnya.
Dalam dua bulan, Teni mengaku omzet penjualannya telah mencapai jutaan rupiah. Ia pun kini rutin datang ke Asemka untuk memantau produk-produk yang sedang diminati.
“Yah, dua bulan ini sudah jutaan. Saya seminggu bisa dua kali ke sini buat ngecek barang,” katanya.
Cerita Amira dan Teni menunjukkan bahwa hubungan pasar fisik dengan perdagangan digital tidak selalu harus berakhir dengan persaingan.
Asemka justru mulai mengambil posisi sebagai tempat berburu barang bagi para pelaku usaha yang memanfaatkan media sosial untuk berjualan.
Tren yang muncul di TikTok mendorong orang datang ke Asemka. Setelah barang ditemukan, produk tersebut kembali dipasarkan melalui TikTok, marketplace, maupun platform digital lainnya.
Dengan pola itu, media sosial yang sempat dianggap mengancam keberadaan pasar fisik kini justru membantu menghadirkan pembeli baru.
Asemka pun tak hanya menjadi tempat orang berbelanja. Bagi sebagian warga, kawasan grosir itu menjadi tempat mencari ide, menemukan pemasok, hingga memulai usaha dengan modal yang relatif kecil.****





