Fajarasia.id — Amerika Serikat (AS) akan menjatuhkan sanksi terhadap sebuah bank besar pada pekan depan. Namun, pemerintah AS belum mengungkap identitas bank maupun negara tempat lembaga keuangan tersebut beroperasi.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pengumuman sanksi akan disampaikan pada Senin (14/9/2026). Ia meminta publik menantikan perkembangan terkait kebijakan tersebut.
“Kami akan melakukannya pada hari Senin karena kami ingin mengenang warga kami yang gugur dalam peristiwa 9/11,” ujar Bessent dalam program “Real America’s Voice”, dikutip CNBC International, Jumat (11/9/2026).
Bessent tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai bank yang menjadi sasaran sanksi. Ia hanya menyebut bahwa pengumuman akan dilakukan pada awal pekan depan.
Rencana tersebut muncul setelah pemerintahan Presiden Donald Trump memperketat tekanan ekonomi terhadap Iran.
Sebelumnya, AS menjatuhkan sanksi terhadap kantor cabang di Dubai milik salah satu bank terbesar Mesir. Lembaga tersebut dituding terlibat dalam penyaluran dana sekitar 1,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp31,56 triliun kepada pihak yang terkait dengan Iran.
Bessent juga menyebut adanya rencana penutupan terhadap salah satu bank terbesar di Turki yang menurutnya selama ini menyalurkan dana kepada Iran.
Langkah tersebut menjadi bagian dari kebijakan Washington untuk membatasi akses Iran terhadap sistem keuangan internasional.
Sejak konflik di Timur Tengah meningkat pada Februari, AS telah memberlakukan berbagai sanksi ekonomi terhadap Iran. Tekanan tersebut kemudian diperluas oleh pemerintahan Trump melalui kebijakan yang disebut Bessent sebagai “Operation Economic Outcast”.
Dalam kebijakan tersebut, AS menjatuhkan sanksi terhadap hampir 60 entitas, kapal, dan individu. Washington juga memperluas penerapan sanksi sekunder terhadap pihak-pihak yang melakukan transaksi bisnis dengan Iran.
Sektor yang terdampak mencakup sejumlah bidang, termasuk pelayaran dan teknologi.
Dengan rencana sanksi baru yang akan diumumkan Senin, pemerintahan Trump kembali menunjukkan upayanya mempersempit jalur pembiayaan yang dinilai dapat mendukung Iran.****





