Fajarasia.id — Pemerintah Jerman meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman perang hibrida yang disebut semakin sering menyasar negara tersebut. Ancaman itu mencakup spionase, sabotase, serangan siber hingga operasi rahasia yang dinilai dapat mengganggu stabilitas Jerman.
Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt mengatakan, negaranya memang tidak sedang berada dalam kondisi perang terbuka. Namun, berbagai bentuk ancaman dari luar negeri telah menjadi persoalan yang dihadapi hampir setiap hari.
“Kami tidak sedang berperang, tetapi kami adalah target harian perang hibrida,” kata Dobrindt kepada Bild am Sonntag, seperti dikutip Reuters, Selasa (11/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan setelah muncul dugaan upaya serangan menggunakan drone yang membawa bahan peledak di Bandara Leipzig/Halle.
Dobrindt mengatakan, kekuatan asing diduga berupaya melemahkan Jerman dengan menciptakan ketakutan serta tekanan politik dan sosial. Namun, dia tidak menyebut negara tertentu yang dituding berada di balik ancaman tersebut.
Jerman Perkuat Pertahanan Drone
Pemerintah Jerman disebut tengah menyiapkan langkah untuk memperkuat kemampuan menghadapi ancaman drone.
Menurut laporan Bild yang mengutip sumber pemerintah, Kementerian Dalam Negeri Jerman berencana menggandakan jumlah personel ahli anti-drone federal dari sekitar 150 menjadi 300 orang.
Jaringan pangkalan terkait juga disebut akan diperluas dari empat menjadi delapan lokasi. Meski demikian, kementerian belum memberikan konfirmasi resmi mengenai rencana tersebut.
Kekhawatiran terhadap aktivitas drone kembali muncul setelah militer Jerman melaporkan adanya dua pesawat nirawak yang terlihat terbang di atas fasilitas militer di Mechernich, Rhine-Westphalia Utara, pada Kamis malam.
Sejumlah anggota parlemen Jerman sebelumnya menduga Rusia berada di balik insiden drone di Leipzig. Namun, tudingan tersebut belum disertai bukti yang dipublikasikan secara terbuka.
Kedutaan Besar Rusia di Berlin membantah keterlibatan negaranya. Rusia menyebut insiden tersebut sebagai bagian dari tuduhan yang tidak berdasar terhadap Moskwa.
Serbia Ingatkan Ancaman Perang Besar
Di tengah meningkatnya kekhawatiran di Eropa, Presiden Serbia Aleksandar Vucic turut memberikan pandangannya mengenai konflik Rusia-Ukraina dan meningkatnya ketegangan antara Rusia dengan negara-negara Eropa.
Dalam sebuah siniar Jerman, Vucic mengatakan hubungan Rusia dan Eropa kini berada dalam situasi yang sangat berbahaya. Dia menilai dukungan negara-negara Eropa kepada Ukraina, termasuk bantuan militer, sanksi ekonomi dan dukungan finansial, telah menjadi bagian dari eskalasi yang lebih luas.
Meski demikian, Vucic menegaskan bahwa Ukraina bukan pihak yang memulai perang.
Dia juga mengingatkan agar masyarakat tidak keliru membedakan antara pihak yang menjadi korban dan pihak yang memulai agresi.
Vucic bahkan memperkirakan konflik Rusia-Ukraina belum akan berakhir dalam waktu dekat karena belum terlihat adanya kemauan yang cukup untuk mencapai kompromi.
“Saya percaya kita berada di awal perang besar,” ujar Vucic.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Vucic bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Dalam pertemuan itu, Vucic menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan Ukraina dan berkomitmen memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.
Bagi Jerman, meningkatnya aktivitas drone dan ancaman serangan siber maupun sabotase menjadi sinyal bahwa bentuk konflik modern tidak selalu hadir dalam bentuk invasi militer secara langsung. Pemerintah kini dituntut memperkuat pertahanan domestik sekaligus menjaga agar ketegangan dengan negara lain tidak berkembang menjadi konflik yang lebih luas.****





