Harta Karun RI Diburu Dunia, LTJ Bernilai Miliaran Rupiah

Harta Karun RI Diburu Dunia, LTJ Bernilai Miliaran Rupiah

Fajarasia.id  — Indonesia memiliki sumber daya mineral strategis yang berpotensi menjadi salah satu komoditas penting dalam industri teknologi dan pertahanan dunia, yakni Logam Tanah Jarang (LTJ) atau rare earth elements.

Komoditas ini menjadi perhatian karena memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus berperan penting dalam berbagai teknologi strategis. Salah satu unsur LTJ, neodymium, bahkan sempat berada di kisaran 785.000 yuan per ton atau sekitar Rp 1,8 miliar per ton berdasarkan data harga yang dikutip dalam laporan tersebut.

Pemerintah pun mulai memperkuat pengelolaan mineral strategis tersebut. Presiden Prabowo Subianto membentuk Badan Industri Mineral yang dipimpin Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto.

Pengangkatan Brian sebagai Kepala Badan Industri Mineral tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 77P Tahun 2025.

Brian mengatakan lembaga tersebut akan memiliki peran dalam mengembangkan industri material strategis yang berkaitan dengan kebutuhan industri pertahanan.

“Badan ini nantinya mengelola industri material strategis yang terkait untuk industri pertahanan. Material strategis ini cukup penting untuk kedaulatan bangsa, juga diharapkan bisa meningkatkan ekonomi kita,” ujar Brian, seperti dikutip Senin (10/8/2026).

Punya 17 Unsur

LTJ bukan hanya terdiri dari satu jenis mineral. Komoditas tersebut mencakup 17 unsur, antara lain skandium, lantanum, serium, praseodimium, neodimium, samarium, europium, gadolinium, terbium, disprosium, holmium, erbium, tulium, iterbium, lutetium, dan itrium.

Berbagai unsur tersebut dibutuhkan untuk menghasilkan material dengan karakteristik khusus. Pemanfaatannya antara lain mencakup industri teknologi, elektronik, energi, hingga industri pertahanan.

Sejumlah material untuk alat utama sistem persenjataan (alutsista) juga memanfaatkan unsur LTJ sebagai bagian dari material paduan.

Salah satunya Terfenol-D yang memanfaatkan terbium dan disprosium, serta material berbasis itrium yang dapat digunakan dalam kebutuhan optik tertentu.

Potensinya Tersebar di Indonesia

Potensi LTJ Indonesia tidak berdiri sebagai endapan tunggal. Mineral tersebut dapat ditemukan sebagai produk ikutan dari pengolahan sejumlah komoditas mineral seperti timah, emas, alumina, pasir zirkon, hingga nikel.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi LTJ tersebar di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Bangka Belitung, Kalimantan dan Sulawesi.

Dari 28 lokasi mineralisasi LTJ yang telah teridentifikasi, baru sekitar sembilan lokasi atau 30 persen yang telah menjalani eksplorasi awal. Sementara 19 lokasi lainnya belum dieksplorasi atau eksplorasinya belum dilakukan secara optimal.

Estimasi sumber daya teoritis juga menunjukkan potensi yang cukup besar. Di Bangka Belitung, misalnya, LTJ yang terdapat pada endapan tailing diperkirakan mencapai sekitar 383.239,8 ton.

Sementara pada wilayah IUP Timah di Bangka Belitung dan Kepulauan Riau, potensi LTJ dari endapan aluvial diperkirakan sekitar 180.323 ton.

Potensi lainnya tercatat di Sumatera dengan estimasi sekitar 19.917 ton, Kalimantan 219 ton, dan Sulawesi sekitar 443 ton.

Harga Neodymium Melonjak

Nilai ekonomi LTJ semakin menarik karena permintaan terhadap sejumlah unsurnya terus berkembang.

Chairman Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif mengatakan LTJ memiliki peranan penting, terutama karena dapat digunakan untuk kebutuhan industri pertahanan sekaligus memiliki nilai jual tinggi.

“Jadi pengembangan LTJ itu untuk industri pertahanan, tapi LTJ selain pertahanan juga bisa buat yang lain. Harganya memang mahal,” ujar Irwandy.

Neodymium menjadi salah satu unsur yang mencuri perhatian karena kenaikan harganya. Berdasarkan data harga yang dikutip dalam laporan tersebut, neodymium berada di kisaran 785.000 yuan per ton pada akhir Agustus 2025.

Kenaikan harga tersebut memperlihatkan posisi neodymium sebagai salah satu mineral strategis dalam rantai pasok teknologi global. Unsur ini banyak dibutuhkan untuk menghasilkan magnet berkekuatan tinggi yang digunakan dalam berbagai perangkat dan teknologi.

Bagi Indonesia, keberadaan sumber daya LTJ membuka peluang besar untuk tidak sekadar menjadi pemasok bahan mentah. Jika pengelolaannya dikembangkan hingga tahap pengolahan dan industri hilir, mineral tersebut berpotensi memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar bagi perekonomian nasional.

Karena itu, pengembangan LTJ kini tidak hanya menyangkut urusan pertambangan. Pemerintah juga menghadapi tantangan untuk membangun teknologi pengolahan, memperkuat riset, memastikan keberlanjutan lingkungan, dan menciptakan industri hilir yang mampu memanfaatkan mineral strategis tersebut.

Jika seluruh mata rantai itu dapat dibangun, “harta karun” LTJ Indonesia berpeluang menjadi salah satu fondasi industri strategis nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan teknologi global.****

Pos terkait