Fajarasia.id – Aktivis sekaligus pemrakarsa 98 Resolution Network, Haris Rusly Moti, menduga adanya kelompok senyap yang berupaya mendaur ulang kerusuhan Agustus 2025. Ia menilai rencana aksi pada 27 Agustus 2026 terasa provokatif dan berpotensi menciptakan krisis kepercayaan terhadap kebijakan Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Haris, kelompok tersebut menggunakan teknik information laundering, yakni pencucian disinformasi agar tampak kredibel di media sosial. Teknik ini disebut sebagai bagian dari peperangan psikologis untuk meruntuhkan kepercayaan publik dan pasar terhadap pemerintah.
Meski demikian, Haris menilai tuntutan aksi massa terkait pemberantasan korupsi sejalan dengan langkah Presiden Prabowo. Ia menegaskan Prabowo telah melampaui tuntutan massa dengan menyita aset korupsi oligarki tambang, hutan, dan lahan, serta menindak tegas kasus korupsi MBG.
Haris juga menyinggung pidato kenegaraan Presiden pada 14 Agustus 2026 yang memaparkan capaian program dua tahun pemerintahan. Namun, ia mengakui masih banyak persoalan rakyat yang belum teratasi.
“Gerakan sosial masyarakat adalah mitra kritis pemerintah dalam melindungi kebijakannya dari penyalahgunaan,” ujar Haris.****





