Rupiah Melemah, Nyaris Sentuh Rp18.100 per Dolar AS

Rupiah Melemah, Nyaris Sentuh Rp18.100 per Dolar AS

Fajarasia.id  – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Selasa (28/7), mendekati level psikologis Rp18.100 per dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda ditutup di posisi Rp18.083 per dolar AS, melemah 74 poin atau 0,41 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah terjadi seiring tekanan yang juga dialami sebagian besar mata uang di kawasan Asia terhadap dolar AS. Yuan China, ringgit Malaysia, dolar Singapura, dan yen Jepang sama-sama bergerak di zona merah, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Di tengah tekanan tersebut, sejumlah mata uang Asia masih mampu mencatat penguatan. Peso Filipina, won Korea Selatan, dan dolar Hong Kong mengakhiri perdagangan dengan kenaikan tipis terhadap dolar AS, menunjukkan respons pasar yang bervariasi di kawasan.

Pergerakan mata uang negara maju pun tidak seragam. Euro, poundsterling Inggris, dan dolar Kanada ditutup menguat, sementara dolar Australia dan franc Swiss justru mengalami pelemahan terhadap dolar AS.

Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor domestik dan global. Dari dalam negeri, sentimen negatif muncul setelah kabar pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia yang memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter ke depan.

Di sisi eksternal, penguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan. Investor disebut tengah menantikan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan sikap hawkish membuat dolar AS tetap berada dalam tren menguat.

Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar cenderung mengalihkan aset ke dolar AS, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Pelaku pasar kini menantikan keputusan dan sinyal kebijakan dari The Fed yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan pasar keuangan global dalam jangka pendek. Selain itu, perhatian juga tertuju pada langkah otoritas moneter Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah meningkatnya tekanan eksternal.****

Pos terkait