Peneliti INDEF: Harga Beras Pasar Tradisional Lebih Fluktuatif

Peneliti INDEF: Harga Beras Pasar Tradisional Lebih Fluktuatif

Fajarasia.id – Hasil penelitian lembaga kajian ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menunjukkan, masyarakat menengah-bawah paling terdampak kenaikan harga beras. Karena pergerakan harga beras di pasar tradisional ternyata lebih fluktuatif dibandingkan di pasar modern.

“Kalangan menengah-bawah yang dulu menikmati harga beras Rp12.500, naik menjadi Rp14.000 di pasar tradisional. Itu artinya alokasi pendapatan untuk belanja keperluannya lainnya akan tergerus karena harus mengkompensasi kenaikan beras ini,” kata Peneliti INDEF bidang Pangan, Energi dan Pembangunan Berkelanjutan Rusli Abdullah diskusi publik ‘Waspada Bola Panas Harga Beras,” Sabtu (23/9/2023).

Dalam penelitiannya, INDEF memantau harga beras dari tanggal 2 Januari hingga 20 September 2023. Hasilnya, kenaikan harga beras di pasar tradisional mencapai 12,6 persen, sedangkan di pasar modern kenaikan harganya hanya 8,8 persen.

“Jadi masyarakat kelas atas yang biasa berbelanja di pasar modern, hanya mengalami kenaikan harga beras sebesar 8,8 persen. Ada deviasi harga yang tajam antara pasar tradisional dan pasar modern,” ujar Rusli.

Kenaikan harga beras yang cenderung lebih rendah di pasar modern, menurut Rusli karena distribusi yang lebih lancar. Selain itu, perdagangan beras di pasar modern lebih terkelola dengan baik.

Hasil penelitian INDEF juga menunjukkan, kenaikan harga beras di tingkat pedagang besar lebih tinggi dibandingkan di tingkat produsen. Kenaikan harga di tingkat pedagang besar mencapai 12,77 persen dan kenaikan di tingkat produsen hanya 7,58 persen.

Sementara itu , di daerah-daerah sentra penghasil beras juga terjadi anomali, di mana kenaikan harga berasnya lebih tinggi. Di antara daerah penghasil beras di Pulau Jawa, harga beras di Jawa Barat naik paling tinggi.

“Jadi daerah yang hasil berasnya melimpah, belum tentu harganya berasnya lebih stabil. Ini terlihat dari harga beras di Jawa Barat yang sejak awal tahun mengalami kenaikan tertinggi sebesar 8 persen,” ucap Rusli.

Upaya pengendalian harga beras, tambah Rusli, perlu terus dilakukan. Jika tidak, akan menyebabkan kenaikan laju inflasi di akhir tahun ini.

“Dampaknya meningkatkan angka kemiskinan, Dan bisa berdampak politis yang memicu gejolak sosial,” ucapnya.****

Pos terkait