Fajarasia.id – Pengamat Politik Denny JA mengatakan, pemilu presiden saat ini bukan hanya soal politik praktis. Melainkan, telah menjadi labolatorium ilmu politik.
“Pilpres memang tak hanya soal politik praktis. Pilpres juga kini menjadi sebuah labolatorium ilmu politik, khususnya marketing politik,” kata Denny dalam keterangan tertulis, Minggu (13/8/2023).
Menurutnya, kampanye resmi pemilu presiden memang belum dimulai. Tapi berbagai sisi pertarungan sejumlah capres sudah menjadi bahan kelas di program Mini MBA marketing politik.
Program ini merupakan kerjasama antara LSI Denny JA, SBM ITB dan Kuncie. Selaku mentor atau dosen, dia mengaku diundang untuk rapat evaluasi angkatan kedua program Mini MBA Marketing Politik.
“Pemilu presiden itu mikro kosmos, contoh mini beroperasinya perilaku politik elit dan psikologi pemilih. Praktek politik itu bahan kajian yang paling baru untuk dirumuskan atau mengoreksi ilmu politik konvensional,” katanya, menjelaskan.
Denny mengutip pemilu presiden di Amerika Serikat antara Joe Biden versus Donald Trump di tahun 2020. Pemilihan presiden itu telah dicatat sebagai salah satu yang paling memecah belah dalam sejarah Amerika Serikat.
“Itu juga menjadi topik diskusi utama di universitas-universitas di seluruh negeri Amerika Serikat. Bahkan sering dieksplorasi sebagai studi kasus, ” katanya, mengungkapkan.
Di beberapa kelas, fokusnya pada faktor strategis dan politik yang berkontribusi pada kemenangan Biden. Misalnya, ada yang membahas bagaimana kampanye Biden berhasil menarik pemilih pinggiran kota dan orang Afrika-Amerika.
“Atau bagaimana penanganan Trump terhadap pandemi covid-19 merusak peluangnya untuk terpilih kembali. Ini menjadi perhatian,” ujarnya.
Di kelas lain, fokusnya pada kekuatan sosial dan budaya mendasar yang membentuk pemilu. Misalnya, ada profesor membahas peran ras, gender, dan ketimpangan ekonomi dalam pemilu.
“Atau bagaimana kebangkitan media sosial memengaruhi cara pemilih mengonsumsi informasi. Itu juga kerap dibahas,” ucapnya.
Di beberapa kelas, fokusnya tertuju pada aspek negatif pemilu. Bersama dengan derasnya informasi online, marak pula ujaran kebencian dan misinformasi.***





