Fajarasia.id – PT Pertamina (Persero) mengalokasikan sekitar 75 persen belanja modal (capital expenditure/capex) untuk bisnis hulu minyak dan gas bumi (migas). Strategi ini ditempuh untuk meningkatkan produksi nasional, menemukan cadangan baru, serta mendukung target pemerintah mencapai produksi minyak 1 juta barel per hari pada 2030.
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza mengatakan, investasi di sektor hulu menjadi prioritas perusahaan karena berperan penting dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.
“Jadi kita mengalokasikan sekitar 75% dari capex kita ke hulu,” kata Oki dalam acara 51st ASEAN Council on Petroleum and Energy (ASCOPE) di The Meru Sanur, Denpasar, Bali, sebagaimana dikutip redaksi dari keterangan yang diterima Rabu (28/10/2026).
Menurut Oki, investasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi dari lapangan yang sudah beroperasi, tetapi juga mempercepat pengembangan temuan migas baru dan menahan penurunan produksi alamiah.
Di Sumatra, Pertamina mengembangkan ekosistem minyak dan gas nonkonvensional (unconventional oil and gas) di Blok Rokan. Kawasan ini disebut memiliki potensi minyak lebih dari 11 miliar barel.
Untuk merealisasikan potensi tersebut, Pertamina membutuhkan dukungan rantai pasok dan penyedia jasa yang memadai. Oki menyebut keterlibatan sekitar 50 vendor diperlukan agar biaya pengeboran per sumur dapat ditekan dan pengembangan lapangan menjadi lebih efisien.
Pertamina juga mempercepat pengembangan temuan minyak di Padang Pancuran, Wilayah Kerja Jambi Merang. Potensi minyak di kawasan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 1 miliar barel.
Oki menilai pengembangan kedua wilayah tersebut menjadi bagian penting dari upaya memperkuat cadangan dan meningkatkan produksi migas domestik.
Selain Sumatra, investasi eksplorasi juga menyasar wilayah Indonesia Timur. Pertamina memfokuskan kegiatan di Region 4 hulu domestik, yang memiliki sejumlah prospek minyak dan gas dengan potensi gas lebih dominan.
Pengembangan berbagai wilayah tersebut diharapkan dapat memperbesar peluang penemuan cadangan baru sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang.
Pertamina mencatat produksi minyak dan gas bumi di atas 1 juta barel setara minyak per hari (barrels of oil equivalent per day/BOEPD) sepanjang tahun buku 2025.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyatakan, kinerja tersebut didukung pengelolaan bisnis energi dari sektor hulu hingga hilir. Perusahaan juga berupaya menjaga keandalan pasokan energi bagi masyarakat, industri, dan sektor strategis lainnya.
Pada sektor pengolahan, kilang Pertamina membukukan Yield Valuable Product sebesar 83,7 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, volume bahan baku yang diolah mencapai 333 juta barel.
Dari sisi keuangan, Pertamina membukukan laba bersih sebesar 3,35 miliar dollar AS atau setara Rp 55,20 triliun. Pendapatan perusahaan mencapai 70,89 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.167,99 triliun, sedangkan EBITDA tercatat sebesar 11,43 miliar dollar AS atau setara Rp 188,33 triliun.
Perusahaan juga merealisasikan investasi domestik sebesar 5,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 97,20 triliun untuk mendukung penguatan infrastruktur dan ketahanan energi nasional.
Di tengah pengembangan bisnis, Pertamina turut menjalankan agenda dekarbonisasi. Sepanjang 2025, perusahaan mencatat penurunan emisi karbon sebesar 2,27 juta ton setara karbon dioksida (CO2e).
Besarnya porsi investasi di sektor hulu menjadi langkah strategis Pertamina dalam mengejar target produksi minyak nasional. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan potensi cadangan yang besar dapat dikembangkan secara ekonomis menjadi produksi nyata, sehingga mampu memperkuat pasokan energi dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor migas.****





