Badai Protes Melanda Delapan Negara Eropa, Tekanan Ekonomi dan Pendidikan Jadi Pemicu

Badai Protes Melanda Delapan Negara Eropa, Tekanan Ekonomi dan Pendidikan Jadi Pemicu

Fajarasia.id — Gelombang demonstrasi dan gejolak sosial meluas di sedikitnya delapan negara Eropa. Tekanan biaya hidup, pembatasan anggaran pendidikan, krisis keterjangkauan hunian, hingga tuduhan korupsi pemerintah memicu aksi turun ke jalan yang berujung bentrokan di sejumlah ibu kota perotaan.

Eskalasi ketegangan tercatat terjadi di Jerman, Austria, Prancis, Albania, Italia, Belgia, Portugal, dan Serbia. Meski dipicu isu spesifik di masing-masing negara, benang merah dari aksi massa ini mengarah pada ketidakpuasan publik terhadap kebijakan publik dan kemerosotan daya beli masyarakat.

Di Jerman dan Austria, sentrum protes digerakkan oleh kelompok mahasiswa dan akademisi. Puluhan ribu orang memenuhi jalanan Wina memprotes pemangkasan anggaran universitas periode 2028–2030 yang dialokasikan sebesar €16 miliar (sekitar Rp322,7 triliun)—nilai yang dinilai jauh di bawah kebutuhan riil sebesar €18 miliar akibat inflasi.

Sementara itu, organisasi mahasiswa di Jerman mematangkan rencana aksi nasional akhir Oktober untuk menuntut perbaikan sarana sekolah, penambahan tenaga pengajar, serta penolakan terhadap wacana wajib militer.

Di Eropa Barat dan Selatan, isu ekonomi mendominasi pergerakan massa. Aksi demonstrasi di Portugal yang dipelopori serikat pekerja CGTP menyoroti lonjakan harga bahan pokok, biaya energi, serta melambungnya harga sewa rumah.

Di Prancis, gejolak sosial akibat himpitan biaya hidup turut memicu sentimen negatif di pasar keuangan. Premi risiko utang pemerintah Prancis terhadap obligasi Jerman melonjak ke level tertinggi dalam 15 tahun, sementara imbal hasil obligasi bertenor 10 tahun menyentuh angka 5,14 persen.

Bentrokan fisik antara demonstran dan aparat keamanan meletus di beberapa kota. Di Tirana (Albania), aksi protes mahasiswa menuntut pengunduran diri Perdana Menteri Edi Rama terkait dugaan korupsi diwarnai pembakaran gedung dan aksi penyerangan fasilitas umum, yang dibalas aparat menggunakan gas air mata serta meriam air.

Kondisi serupa terjadi di Italia dan Belgia. Kota-kota besar seperti Milan, Bologna, Turin, hingga Brussel menyaksikan bentrokan jalanan dan aksi penjarahan yang direspon keras oleh pemerintah setempat.

Di Serbia, kemarahan publik menjelma menjadi gerakan politik berskala besar. Sekitar 150.000 massa memadati Beograd menuntut penurunan rezim pemerintahan, menindaklanjuti gelombang protes dua tahun terakhir pascatragedi runtuhnya fasilitas publik di Novi Sad yang dikaitkan dengan praktisi korupsi sistemis.****

 

Pos terkait