Fajarasia.id — Wali Kota Milan, Giuseppe Sala, menilai jumlah personel kepolisian yang dikerahkan untuk mengamankan aksi protes nasional di Italia pada 17–18 Oktober 2026 belum memadai. Ia pun menyatakan tidak keberatan dengan pengerahan 500 personel militer untuk menjaga keamanan kota tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Sala dalam wawancara dengan surat kabar Corriere della Sera, sebagaimana dilaporkan pada Jumat.
“Menurut saya jumlah polisi di jalan-jalan akhir pekan lalu tidak memadai. Oleh karena itu, saya tidak keberatan dengan pengerahan personel militer di Milan,” kata Sala.
Kerusuhan yang terjadi di sejumlah kota di Italia turut melanda Milan. Aksi protes di kota tersebut diwarnai penjarahan dan perusakan fasilitas.
Kepolisian mengamankan lebih dari 300 orang, dengan hampir 50 orang di antaranya kemudian ditangkap. Selain itu, lebih dari 110 personel kepolisian dilaporkan terluka dalam bentrokan.
Menyusul kerusuhan tersebut, otoritas Italia menyetujui pengerahan 500 personel militer di Milan. Mereka ditugaskan menjaga objek-objek vital dan meningkatkan patroli guna membantu memulihkan keamanan.
Meski mendukung langkah tersebut, Sala menegaskan pengerahan militer seharusnya bersifat sementara. Berdasarkan dekret yang ditetapkan, masa penugasan pasukan direncanakan berlangsung selama tiga bulan.
Sala mengatakan, penggunaan personel militer untuk membantu menjaga keamanan memang dapat diperdebatkan. Namun, ia meminta pemerintah mempertimbangkan alternatif lain apabila tersedia.
“Kita bisa mendiskusikan apakah militer merupakan solusi terbaik, tetapi saya seorang pragmatis, sehingga saya bertanya: apakah kita memiliki alternatif? Jika ada, mari kita diskusikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila tidak ada pilihan lain yang diajukan, pengerahan militer dapat dipertimbangkan sebagai langkah untuk menjawab kebutuhan keamanan saat ini.
Di luar persoalan keamanan, Sala menilai kerusuhan tersebut juga perlu dilihat dari persoalan sosial yang lebih luas.
Ia mengaitkan aksi protes dengan meningkatnya kesenjangan sosial dan ekonomi, terbatasnya kesempatan mobilitas sosial, serta pengaruh media sosial terhadap kalangan muda.
Menurut Sala, penanganan kerusuhan tidak cukup hanya mengandalkan penambahan personel keamanan. Pemerintah juga perlu memperhatikan faktor sosial yang dinilai berkontribusi terhadap munculnya ketegangan di masyarakat.
Pengerahan militer di Milan kini menjadi bagian dari langkah pengamanan setelah rangkaian aksi protes yang berujung pada kerusakan fasilitas dan bentrokan dengan aparat. Sementara itu, perdebatan mengenai efektivitas penggunaan militer serta penanganan akar persoalan sosial tetap menjadi perhatian pemerintah setempat.****





