Fajarasia.id – Libya, negara dengan cadangan minyak terbesar di Afrika, kini menghadapi krisis energi parah yang melumpuhkan aktivitas ekonomi dan sosial. Kelangkaan bahan bakar, pemadaman listrik hingga krisis air bersih berlangsung lebih dari enam minggu terakhir dan memicu gelombang demonstrasi di berbagai wilayah.
Di ibu kota Tripoli, antrean panjang kendaraan mengular di SPBU dengan waktu tunggu hingga tiga hari. Harga solar di pasar gelap melonjak lebih dari 50 kali lipat, mencapai 8 dinar Libya per liter. “Jika saya membeli solar di pasar gelap, saya tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidup,” keluh Ahmed Al-Sharif, sopir truk.
Pemadaman listrik hingga 10 jam per hari menghantam bisnis kecil. Khaled Ibrahim, pemilik supermarket, mengaku barang beku membusuk akibat mesin pendingin mati. Krisis juga merembet ke sistem perairan setelah terganggunya operasi Great Man-Made River, membuat sejumlah usaha terpaksa tutup.
Situasi ini memicu demonstrasi berujung kekerasan. Warga membakar ban dan memblokir jalan, bahkan membarikade gedung pemerintah. Ketua Perusahaan Listrik Umum Libya (GECOL) Bashir Al-Marash berjanji krisis listrik akan berakhir dalam dua minggu.
Juru bicara Brega Petroleum Marketing Company, Ahmed Al-Masallati, menyebut hambatan suplai dipicu gangguan pengiriman di Selat Hormuz dan penurunan produksi kilang Zawia. Pakar energi Universitas Omar Al-Mukhtar, Tariq Al-Tarhouni, menilai akar masalah Libya bukan sekadar pembangkitan listrik, melainkan krisis pengelolaan sistem energi secara menyeluruh.***





