Fajarasia.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap dampak El Nino berkekuatan sangat kuat yang masih melanda Indonesia. Fenomena tersebut tidak hanya memperpanjang kekeringan, tetapi juga menyebabkan sejumlah wilayah yang biasanya mengalami hujan sepanjang tahun ikut merasakan musim kemarau.
BMKG mencatat saat ini sekitar 80,7 persen dari 564 Zona Musim (ZOM) di Indonesia sedang berada dalam periode kemarau. Kondisi tersebut diperparah oleh kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang terjadi secara bersamaan.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Faisal, menjelaskan kombinasi kedua fenomena iklim itu menyebabkan curah hujan berkurang di banyak wilayah sehingga musim hujan diperkirakan datang lebih lambat dan berlangsung lebih singkat dibanding kondisi normal.
“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia, sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” ujar Faisal.
Direktur Perubahan Iklim BMKG, A Fachri Radjab, mengatakan dampak El Nino tahun ini tergolong signifikan. Salah satu indikator yang terlihat jelas adalah meluasnya wilayah yang mengalami kekeringan.
Menurutnya, sebanyak 556 zona musim yang mencakup sekitar 61,91 persen luas daratan Indonesia saat ini tengah mengalami musim kemarau. Bahkan, sejumlah wilayah yang selama ini dikenal memiliki pola hujan sepanjang tahun ikut merasakan periode kemarau.
“Bahkan El Nino 2026 menyebabkan terjadinya periode kemarau pada beberapa ZOM dengan tipe hujan sepanjang tahun,” kata Fachri.
BMKG juga mencatat banyak titik pengamatan mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari yang tersebar di 25 provinsi. Durasi terpanjang tercatat di Bantul dengan 131 hari tanpa hujan atau lebih dari empat bulan.
Sementara itu, prospek musim hujan menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia baru akan memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Wilayah yang diperkirakan mulai mendapat hujan pada November meliputi sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Adapun pada Desember, musim hujan diperkirakan meluas ke sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, dan Papua bagian selatan.
BMKG menegaskan sekitar 529 zona musim atau lebih dari 60 persen wilayah daratan Indonesia diperkirakan mengalami kemunduran musim hujan dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Meski demikian, mayoritas wilayah diprediksi tetap memiliki karakter hujan dalam kategori normal selama musim hujan 2026/2027.
Menghadapi kondisi kering yang masih berlangsung, BMKG mengimbau pemerintah daerah, pelaku sektor pertanian, serta masyarakat untuk memperkuat langkah antisipasi. Beberapa upaya yang disarankan antara lain penghematan penggunaan air, peningkatan kapasitas tampungan air, penyesuaian pola tanam, hingga optimalisasi konservasi sumber daya air.*****





