Fajarasia.id – Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan bahan bakar diesel dengan campuran minyak sawit sebesar 50 persen atau biodiesel B50.
Penerapan B50 yang dimulai pada 1 Juli 2026 itu kini mulai menarik perhatian negara lain. Jepang, Malaysia, hingga sejumlah negara Eropa disebut tertarik mempelajari pengalaman Indonesia dalam menerapkan bahan bakar nabati tersebut.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan implementasi B50 sekaligus menjadi tonggak baru bagi pengembangan energi berbasis bahan baku domestik.
“Berbagai uji ketahanan ini telah dibuktikan oleh user dan baru saat road test B50 ini banyak sekali diikuti oleh user dan kali ini juga baru diikuti oleh mesin-mesin bermerek dari Eropa,” ujar Eniya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, dikutip Rabu (9/9/2026).
Menurut Eniya, pengujian B50 yang dilakukan Indonesia mendapat perhatian dari berbagai negara.
“Jadi pertama kali Indonesia melakukan pengujian ini dan banyak yang mengikuti bahkan sekarang menjadi ketertarikan negara-negara lain sekarang belajar ke kami. Jadi ada dari Jepang, dari Malaysia, dari Eropa sekarang datang belajar ke kami,” katanya.
Pemerintah mencatat penyaluran biodiesel secara nasional mencapai 10,69 juta kiloliter (KL) hingga 7 September 2026.
Angka tersebut terdiri dari penyaluran B40 sebanyak 7,273 juta KL pada semester I-2026 serta sekitar 3,4 juta KL B50 yang telah disalurkan sejak Juli hingga awal September 2026.
Pemerintah sebelumnya menetapkan penerapan B50 sebagai tahap lanjutan setelah Indonesia menjalankan kebijakan biodiesel dengan kadar campuran yang lebih rendah.
“Untuk implementasi B50, ini kami melihat dari konteks peresmian yang dilakukan oleh Bapak Presiden. Ini menjadi tonggak sejarah negara bangsa kita yang pertama di dunia mengimplementasikan B50 mulai dari 1 Juli 2026,” ujar Eniya.
Dari sisi distribusi, penerapan B50 juga telah menjangkau sebagian besar jaringan penyaluran bahan bakar.
Sekitar 90 persen jaringan distribusi atau 6.050 SPBU di seluruh Indonesia disebut telah menyalurkan B50.
Selain itu, sebanyak 76 dari total 104 titik serah terminal bahan bakar telah aktif menyalurkan produk tersebut kepada konsumen.
Eniya mengatakan tingkat pemanfaatan biodiesel Indonesia kini berada di atas sejumlah negara lain yang juga mengembangkan bahan bakar nabati.
Malaysia, misalnya, baru meningkatkan program biodieselnya secara bertahap hingga B20. Sementara penggunaan FAME di Eropa berada di kisaran 7 persen.
“Kalau kita bandingkan Malaysia itu baru saja mengumumkan B20 sebelumnya B15 terus. Lalu di Eropa itu 7 persen, 7 persen FAME yang dipakai dan kita lihat di beberapa negara lain 10 persen rata-rata. Nah ini menunjukkan bahwa kita menjadi pionir dan sekarang menjadi rujukan,” kata Eniya.
Menurut pemerintah, pengalaman Indonesia tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan bahan bakar nabati berbasis kelapa sawit.
Selain aspek energi, penerapan B50 juga ditujukan untuk memberikan manfaat ekonomi.
Pemerintah memproyeksikan penggunaan B50 dapat menghemat devisa hingga Rp 170 triliun pada 2026.
Kebijakan tersebut juga diperkirakan mampu menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 2,1 juta orang sekaligus meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit dalam negeri hingga Rp 20,92 triliun.
Eniya mengatakan manfaat utama B50 adalah meningkatnya penggunaan sumber energi yang berasal dari bahan baku domestik.
“Manfaat yang kita bisa ambil dari B50 ini adalah yang pertama melalui tentu saja kita meningkatkan pemanfaatan energi yang berdasarkan bahan baku dari domestik. Dan di sini menunjukkan ketahanan dan kemandirian energi kita,” ujarnya.
Dengan semakin luasnya penerapan B50 dan meningkatnya perhatian negara lain, pemerintah melihat program tersebut bukan hanya sebagai kebijakan substitusi bahan bakar fosil, tetapi juga sebagai upaya memperkuat ketahanan energi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas sawit nasional.****





