Realitarakyat.com – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Selasa (4/8) dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda dibuka di level Rp18.026 per dolar AS, turun 29 poin atau sekitar 0,16 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring penguatan dolar AS yang turut mendorong pelemahan sejumlah mata uang di kawasan Asia. Yuan China, peso Filipina, dan ringgit Malaysia sama-sama bergerak di zona negatif terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Tren serupa juga terlihat pada dolar Singapura dan yen Jepang yang mengalami pelemahan, sementara dolar Hong Kong cenderung stabil. Di tengah tekanan tersebut, won Korea Selatan justru mencatatkan penguatan terhadap dolar AS.
Di pasar mata uang global, pergerakan valuta utama berlangsung beragam. Euro, dolar Australia, dolar Kanada, dan franc Swiss mencatat kenaikan tipis, sedangkan poundsterling Inggris bergerak melemah.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan pergerakan rupiah sepanjang hari ini masih akan berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah secara terbatas.
Menurutnya, penguatan dolar AS dipicu oleh rilis data aktivitas manufaktur Amerika Serikat yang menunjukkan hasil lebih baik dari ekspektasi pasar. Kondisi tersebut meningkatkan minat investor terhadap aset berbasis dolar sehingga memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, pelaku pasar diperkirakan masih memilih bersikap hati-hati sembari menunggu sejumlah data ekonomi penting yang dijadwalkan dirilis pada pekan ini, baik dari dalam negeri maupun global. Sikap tersebut diperkirakan akan memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan.****





