Fajarasia.id – Laju inflasi Indonesia pada Juli 2026 diperkirakan melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, memproyeksikan Indeks Harga Konsumen (IHK) hanya mengalami inflasi sebesar 0,03 persen secara bulanan (month-to-month/mtm), turun tajam dari 0,44 persen pada Juni 2026.
Menurut Andry, rendahnya inflasi pada Juli didorong oleh penurunan harga pangan serta meredanya tekanan dari kelompok harga yang diatur pemerintah. Kondisi tersebut diperkirakan mampu menahan kenaikan inflasi inti yang biasanya meningkat pada awal tahun ajaran baru.
“Kami memprediksi inflasi domestik yang rendah pada Juli,” ujar Andry di Jakarta, Minggu (2/8/2026).
Secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi pada Juli diperkirakan berada di level 3,06 persen, masih mencerminkan kondisi harga yang relatif terkendali.
Kelompok volatile food diproyeksikan mengalami deflasi sebesar 1,12 persen (mtm), berbalik dari inflasi 0,14 persen pada Juni. Penurunan tersebut terutama dipicu oleh turunnya harga cabai merah dan bawang merah setelah memasuki masa panen raya di sejumlah daerah.
Sementara itu, kelompok administered prices atau harga yang diatur pemerintah diperkirakan mencatat inflasi 0,10 persen (mtm), jauh lebih rendah dibandingkan 1,41 persen pada bulan sebelumnya. Perlambatan ini terjadi setelah tekanan harga akibat penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada Juni mulai mereda.
Di sisi lain, inflasi inti diperkirakan meningkat menjadi 0,29 persen (mtm) dari 0,23 persen pada Juni. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh faktor musiman, terutama meningkatnya pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan pendidikan pada awal tahun ajaran baru.
Andry memperkirakan pembayaran uang sekolah menjadi salah satu penyumbang utama inflasi inti dengan kontribusi sekitar 0,06 poin persentase terhadap inflasi bulanan.
Data resmi mengenai inflasi Juli 2026 dijadwalkan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Senin (3/8/2026). Selain inflasi, BPS juga akan merilis sejumlah indikator ekonomi penting lainnya, mulai dari kinerja ekspor-impor Juni 2026, indeks harga perdagangan besar, nilai tukar petani, perkembangan sektor pariwisata, transportasi nasional, hingga data luas panen serta produksi padi dan jagung.
Rilis berbagai indikator tersebut akan menjadi acuan penting dalam membaca kondisi perekonomian nasional sekaligus menjadi dasar bagi pemerintah dan pelaku pasar dalam menyusun langkah kebijakan pada paruh kedua 2026.****





