Megawati Kenang Luka Kamboja Era Khmer Merah saat Terima Deputi PM Hun Many

Megawati Kenang Luka Kamboja Era Khmer Merah saat Terima Deputi PM Hun Many

Fajarasia.id – Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, menerima kunjungan Deputi Perdana Menteri Kamboja Hun Many di kediamannya di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (28/7). Pertemuan berlangsung hangat dengan pembahasan mengenai Pancasila, hubungan bilateral, hingga sejarah kelam Kamboja pada era Khmer Merah.

Dalam pertemuan tersebut, Hun Many mengaku tertarik mempelajari Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Ia menilai ideologi tersebut memiliki nilai-nilai yang relevan untuk memperkuat kehidupan berbangsa dan berharap dapat dipahami lebih luas oleh masyarakat dunia.

“Saya tertarik dengan ideologi Pancasila dan ingin mempelajari bagaimana Indonesia mampu mempertahankan serta menerapkannya,” ujar Hun Many.

Menanggapi hal itu, Megawati membagikan naskah lima sila Pancasila kepada delegasi Kamboja. Ia juga menceritakan pengalamannya memperkenalkan Pancasila dalam berbagai forum internasional, termasuk saat berbicara pada Forum Zayed Award di Abu Dhabi.

Menurut Megawati, Pancasila tidak hanya menjadi fondasi kehidupan berbangsa Indonesia, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi negara-negara lain dalam membangun kehidupan yang damai, inklusif, dan menghargai keberagaman.

Suasana pertemuan kemudian berubah lebih emosional ketika Megawati mengenang perjalanan sejarah Kamboja. Ia mengaku setiap mengingat masa pemerintahan Khmer Merah, dirinya selalu teringat besarnya penderitaan yang dialami rakyat Kamboja.

“Saya selalu sedih ketika mengingat begitu banyak penderitaan masyarakat Kamboja pada masa Khmer Merah,” ungkap Megawati.

Hun Many membenarkan besarnya tragedi kemanusiaan tersebut. Ia menyebut sekitar tiga juta orang meninggal dunia selama periode pemerintahan Khmer Merah, yang menjadi salah satu babak paling kelam dalam sejarah negaranya.

Dalam kesempatan itu, Hun Many juga menyampaikan apresiasi atas kontribusi Indonesia dalam proses perdamaian Kamboja. Ia menilai peran diplomasi Indonesia melalui Jakarta Informal Meeting (JIM) I pada 1988, JIM II pada 1989, hingga Perjanjian Perdamaian Paris 1991 menjadi tonggak penting dalam mengakhiri konflik berkepanjangan di negaranya.

Megawati juga mengenang hubungan baik yang telah lama terjalin dengan para pemimpin Kamboja, termasuk Raja Norodom Sihanouk dan mantan Perdana Menteri Hun Sen, ayah Hun Many. Ia mengatakan terakhir kali bertemu Hun Sen pada 2010 saat menghadiri agenda International Conference on Asian Political Parties di Kamboja.

“Pertemuan ini bukan sekadar kunjungan biasa. Banyak kenangan dan hubungan kekeluargaan yang kembali teringat,” kata Megawati.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Duta Besar Kamboja untuk Indonesia Tean Samnang beserta jajaran delegasi. Sementara Megawati didampingi Ketua DPP PDIP Ahmad Basarah, Puti Guntur Soekarno, anggota DPR Hendra Rahtomo, serta Dewan Pakar Strategi Hubungan Luar Negeri BPIP Darmansjah Djumala.

Selain mempererat hubungan personal antartokoh, pertemuan itu juga mencerminkan eratnya hubungan Indonesia dan Kamboja yang telah dibangun melalui kerja sama diplomasi, sejarah perdamaian, serta komitmen bersama dalam menjaga stabilitas dan persahabatan di kawasan Asia Tenggara.****

Pos terkait