Fajarasia.id – Ribuan warga Turki turun ke jalan pada Kamis (20/3/2025) menentang penahanan Wali Kota Istanbul, Ekrem Imamoglu. Pemerintah telah memberlakukan larangan berkumpul, tetapi aksi protes tetap berlangsung, dikutip dari CNN.
Demonstrasi terjadi di kantor pemerintahan, kantor polisi, universitas, dan alun-alun publik di berbagai kota. Aksi protes ini memicu bentrokan dengan polisi yang memasang barikade dan menutup jalan.
Imamoglu, yang merupakan rival utama Presiden Recep Tayyip Erdogan, ditahan pada Rabu (19/3/2025) dengan tuduhan korupsi dan mendukung kelompok teroris. Oposisi mengecam tindakan ini sebagai “upaya kudeta” dan menuding pemerintah melakukan kriminalisasi politik menjelang pemilu.
Presiden Erdogan menepis tuduhan itu dan menyebut kritik oposisi sebagai “pertunjukan drama” yang tidak perlu dibahas lebih lanjut. Namun, Ketua Partai Rakyat Republik (CHP), Ozgur Ozel, menuduh Erdogan berusaha menyingkirkan Imamoglu karena takut kalah dalam pemilu.
Ia menegaskan Imamoglu tetap akan dicalonkan sebagai kandidat presiden dalam pemungutan suara internal partai yang dijadwalkan pada Minggu (23/3/2025). Sementara pemilu nasional baru akan digelar pada 2028, ada kemungkinan pemilu dipercepat jika Erdogan ingin mencalonkan diri kembali.
Sejumlah survei menunjukkan bahwa Imamoglu saat ini unggul atas Erdogan dalam elektabilitas. Pemerintah telah memberlakukan larangan perkumpulan selama empat hari dan membatasi akses media sosial untuk mencegah penyebaran informasi terkait penahanan Imamoglu.
Puluhan orang telah ditangkap atas tuduhan menyebarkan postingan provokatif di media sosial. Di Istanbul, polisi menyiagakan kendaraan meriam air di sekitar kantor polisi tempat Imamoglu ditahan.
Dari dalam tahanan, Imamoglu menyerukan kepada anggota peradilan dan partai berkuasa untuk menentang ketidakadilan. Ia menegaskan bahwa penahanannya bukan lagi soal politik, tetapi soal keadilan dan demokrasi di Turki.
Sejak aksi protes besar-besaran Gezi Park tahun 2013, kebebasan berpendapat di Turki semakin dibatasi. Meski demikian, demonstrasi tetap berlangsung di berbagai kota dengan massa meneriakkan slogan anti-pemerintah.
Pemerintah juga menyita perusahaan konstruksi milik Imamoglu dan menyerahkannya kepada pengadilan. Kejaksaan Istanbul dan otoritas keuangan menyebut penyitaan ini sebagai bagian dari investigasi korupsi.
Namun, oposisi menuding langkah tersebut sebagai upaya melemahkan Imamoglu secara finansial. Selain Imamoglu, sebanyak 105 orang lainnya yang mayoritas adalah pegawai pemerintah kota Istanbul juga turut ditangkap.
Demonstrasi dan ketegangan politik diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan. Oposisi terus menyerukan pembebasan Imamoglu dan mengkritik tindakan pemerintah yang dianggap semakin otoriter.****




