Pengantar Tafsir Surat Al-Lahab, Balasan bagi Abu Lahab dan Istri

Pengantar Tafsir Surat Al-Lahab, Balasan bagi Abu Lahab dan Istri

Fajarasia.id – Ulama menyepakati bahwa surat Al-Lahab termasuk surat Makkiyah. Surat ini juga dinamakan dengan surat Al-Masad Ada juga yang menyebutnya dengan surat Tabbat, surat Abi Lahab dan surat Al-Lahab. Surat tergolong awal surat yang diturunkan di Makkah, menempati urutan keenam dalam urutan diturunkannya. Surat diturunkan setelah surat Al-Fatihah dan sebelum surat Al-Kautsar. Ayatnya berjumlah lima dengan 23 kalimat dan 77 huruf.

Kanduangan Pokok Surat Menurut kesepakatan ulama, kandungan surat Al-Lahab adalah tentang balasan bagi Abu Lahab Abdul Uzza bin Abdul Muthalib, paman Nabi saw, dan bagi istrinya, Ummu Jamil Arwa binti Harb bin Umayyah, saudari Abu Sufyan.

Balasannya berupa kehancuran Abu Lahab di dunia, dan dimasukan ke dalam neraka Jahanam di akhirat. Karena ia sangat memusuhi Nabi saw dan mencegah manusia untuk beriman kepadanya.

Demikian juga istrinya yang ikut serta memusuhi Nabi saw sehingga juga ikut merasakan siksa. Ia membantu suaminya atas kekufuran, pembangkangan, dan penentangannya terhadap agama Islam sehingga pada hari Kiamat akan menjadi teman suaminya merasakan siksa di dalam neraka Jahanam. (Wahbah bin Musthafa Az-Zuhaili, At-Tafsirul Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1418 H], juz XXX, halaman 453-454).

Munasabah Surat Syekh Musthafa Al-Maraghi menjelaskan munasabah surat Al-Lahab dengan surat sebelumnya, An-Nashr.

Yaitu pada surat sebelumnya Allah menyebutkan bahwa pahala orang yang taat adalah memperoleh kemenangan dan kemuliaan di dunia, serta pahala yang besar di akhirat.

Sedangkan pada surat Al-Lahab Allah menyebutkan bahwa akibat orang yang bermakiat adalah kerugian di dunia dan siksaan di akhirat. (Ahmad bin Musthafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi, [Mesir, Matba’ah Musthafa al-Babil Halabi: 1365H/1946M], juz XXX, halaman 260).

Sababun Nuzul Dalam Shahih Muslim disebutkan hadits berkenaan sababun nuzul surat ini sebagai berikut:

وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ [الشعراء: 214] وَرَهْطَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ، خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى صَعِدَ الصَّفَا، فَهَتَفَ: يَا صَبَاحَاهْ، فَقَالُوا: مَنْ هَذَا الَّذِي يَهْتِفُ؟ قَالُوا: مُحَمَّدٌ، فَاجْتَمَعُوا إِلَيْهِ، فَقَالَ: يَا بَنِي فُلَانٍ، يَا بَنِي فُلَانٍ، يَا بَنِي فُلَانٍ، يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَاجْتَمَعُوا إِلَيْهِ، فَقَالَ: أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا تَخْرُجُ بِسَفْحِ هَذَا الْجَبَلِ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟ قَالُوا: مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ كَذِبًا، قَالَ: فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ، قَالَ: فَقَالَ أَبُو لَهَبٍ: تَبًّا لَكَ أَمَا جَمَعْتَنَا إِلَّا لِهَذَا، ثُمَّ قَامَ فَنَزَلَتْ هَذِهِ السُّورَةُ تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَقَدْ تَبَّ، كَذَا قَرَأَ الْأَعْمَشُ إِلَى آخِرِ السُّورَةِ

Artinya, “Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin Al-‘Ala, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari A’masy dari Amr bin Murrah dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: “Manakala turun ayat, “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat” (As-Syu’ara’: 214) dan ayat “Dan kabilahmu yang ikhlas” (ayat ini telah dinaskh tilawah atau bacaannya sehingga tidak ditemukan dalam Al-Quran), Rasulullah saw keluar rumah hingga sampai di bukit Shafa dan berseru: “Ya shabahaah” (kalimat untuk memberi peringatan bahwa musuh telah datang).

Lantas orang-orang berkata: “Siapa orang yang menyeru ini?” Orang lain menjawab: “Muhammad.” Lantas mereka berkumpul kepada beliau. Beliau pun bersabda: “Wahai bani fulan, wahai bani fulan, wahai bani fulan, wahai bani Abdu Manaf, wahai bani Abdul Muthalib!” Lantas mereka pun berkumpul kepada beliau. Lalu beliau bersabda: “Apakah jika aku beritahu kalian bahwa seekor kuda keluar dari bawah gunung ini kalian akan membenarkanku?” Mereka menjawab: “Kami tidak pernah melihatmu berdusta.”

Beliau bersabda, “Aku memperingatkan kalian akan turun siksa yang pedih.”

Abu Lahab berkata: “Celakalah kamu. Apakah kamu mengumpulkan kami hanya untuk ini?”

Kemudian dia berdiri, lantas turunlah surat ini:

“Tabbat yadaa abii lahabin waa tabb.” Demikian A’masy membacanya sampai akhir surat. (HR Muslim).

Keutamaan Surat Keutamaan membaca surat Al-Lahab disebutkan oleh Al-Baidhawi dalam tafsirnya, Tafsir Al-Baidhawi, sebagai berikut:

عن النبي صلّى الله عليه وسلم: من قرأ سورة تبت رجوت أن لا يجمع الله بينه وبين أبي لهب في دار واحدة

Artinya, “Dari Nabi saw, barang siapa membaca surat Tabbat maka aku berharap Allah tidak akan mengumpulkan antara dirinya dan Abu Lahab di dalam satu tempat.” (Nasiruddin As-Syirazi Al-Baidhawi, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, [Beirut, Darul Ihya’: 1418 H], juz VI, halaman 346). Wallahu a’lam bisshawab.****

Pos terkait