Fajarasia.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor barang konsumsi Indonesia anjlok 10,81% secara tahunan (year-on-year) pada Maret 2026, dengan nilai hanya mencapai US$ 1,55 miliar. Penurunan ini dipicu oleh melemahnya permintaan sejumlah komoditas utama, termasuk kendaraan, mesin/perlengkapan elektrik, serta produk farmasi.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartanto, menjelaskan bahwa impor kendaraan dan bagiannya (HS87) turun drastis 46,69%, mesin dan perlengkapan elektrik (HS85) merosot 50,93%, sementara produk farmasi (HS30) turun 18,30%.
Meski impor konsumsi melemah, total impor Indonesia tetap naik 1,51% menjadi US$ 19,21 miliar. Kenaikan terutama ditopang impor bahan baku/penolong yang naik 2,15% menjadi US$ 13,77 miliar, serta barang modal yang meningkat 4,98% menjadi US$ 3,89 miliar.
Secara kumulatif, nilai impor Januari–Maret 2026 mencapai US$ 61,30 miliar, tumbuh 10,05% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Bahan baku/penolong menjadi penyumbang terbesar dengan nilai US$ 43,17 miliar, menegaskan peran vital sektor ini dalam menopang aktivitas industri nasional.***





