Fajarasia.id – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia tetap memiliki opsi untuk keluar dari Board of Peace (BoP) apabila keterlibatan dalam forum internasional tersebut bertentangan dengan prinsip dan kepentingan nasional. Hal ini disampaikan oleh mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, usai menghadiri pertemuan bersama Presiden, jajaran menteri, serta mantan pejabat Kementerian Luar Negeri di Istana Kepresidenan.
“Yang saya paling suka, dan ini sejalan dengan kebijakan inti luar negeri Indonesia, adalah bahwa kita masuk dengan hati-hati dan tetap berpegang pada opsi untuk keluar jika bertentangan dengan prinsip kita,” ujar Dino. Ia menambahkan, Presiden Prabowo berulang kali menekankan sikap tegas tersebut, bahkan jika negara lain tetap bertahan dalam BoP.
Dino menilai BoP merupakan satu-satunya opsi yang tersedia saat ini di tingkat global untuk menghentikan konflik di Gaza, meski bukan solusi menyeluruh dan memiliki risiko kegagalan tinggi. “BoP ini harus dijalani dengan kehati-hatian, karena banyak faktor eksternal yang bisa memengaruhi efektivitasnya, termasuk dinamika Amerika Serikat dan Israel,” jelasnya.
Dalam diskusi, Prabowo juga menekankan pentingnya menjaga keselarasan sikap dengan negara-negara Islam. Menurut Dino, Presiden meyakini bahwa keterbatasan pengaruh Indonesia dapat diimbangi melalui kerja sama erat dengan sesama negara Islam di BoP. “Beliau menyatakan bahwa segala sesuatu yang dilakukan Indonesia harus dijamin dengan kekompakan bersama negara-negara Islam,” ungkap Dino.
Dino menuturkan, pertemuan dengan Presiden berlangsung dalam format dialog terbuka. Semua masukan, kritik, dan pandangan dari peserta diterima dan direspons langsung oleh Prabowo. “Diskusi ini sangat terbuka, tidak ada batasan pertanyaan, dan berlangsung dua arah,” katanya.
Sebagai sikap pribadi, Dino menyatakan mendukung keterlibatan Indonesia dalam BoP dengan tetap memahami risiko yang ada. Ia menegaskan bahwa tujuan utama tetap pada kemerdekaan Palestina dan tercapainya solusi dua negara. “Jalan menuju two state solution masih panjang dan membutuhkan diplomasi, lobi politik, serta pendekatan yang realistis. Kita doakan Palestina merdeka bisa segera terwujud,” pungkasnya.






