Fajarasia.id – Hubungan ekonomi Indonesia dan Australia memasuki babak baru. Kedua negara kini tidak hanya berfokus pada perdagangan, tetapi juga menjajaki penguatan kerja sama investasi sebagai tindak lanjut dari perjanjian Indonesia–Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang telah mendorong lonjakan perdagangan bilateral dalam lima tahun terakhir.
Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, menegaskan bahwa peningkatan investasi menjadi prioritas utama dalam hubungan ekonomi kedua negara. “Kami melihat ini sebagai kesempatan untuk menegaskan pentingnya investasi Australia di Indonesia yang terus meningkat dan diharapkan terus bertumbuh,” ujarnya seusai Bilateral Business Roundtable Indonesia–Australia dalam rangkaian Indonesia Economic Summit 2026 di Jakarta.
Australia menugaskan Kanselir Universitas Western Sydney, Prof. Jennifer Westacott, sebagai Australia’s Business Champion for Indonesia untuk mendorong keterlibatan dunia usaha. Jennifer menyebut misi dagang kali ini lebih konkret, dengan membawa delegasi dari 19 organisasi Australia dan 29 peserta dari komunitas investasi, termasuk manajer dana dengan total kelolaan lebih dari satu triliun dolar AS.
“Misi ini difokuskan pada identifikasi mitra, skema pembiayaan, proyek yang bisa dikerjakan bersama, serta peluang investasi jangka panjang di Indonesia,” jelas Jennifer. Ia menambahkan, sejak IA-CEPA berlaku, nilai perdagangan Indonesia–Australia meningkat hingga tiga kali lipat. Kini, fokus diarahkan pada investasi yang berkelanjutan.
Dalam diskusi dengan Kadin dan Apindo, delegasi Australia menyoroti sejumlah sektor potensial, antara lain pendidikan, kesehatan, energi, waste-to-energy, energi bersih, infrastruktur, dan digital. Jennifer mengungkapkan, pihaknya telah menerima paparan dari Danantara Indonesia terkait proyek waste-to-energy dan mulai membuka pembicaraan awal dengan pelaku usaha Australia. “Australia memiliki kapabilitas di bidang ini, dan minggu ini kami mulai menjajaki kemungkinan kemitraan,” tuturnya.
Rod Brazier menambahkan, penguatan kerja sama investasi ini sejalan dengan rencana kunjungan Perdana Menteri Australia ke Indonesia pada awal 2026 untuk bertemu Presiden Prabowo Subianto. “Kunjungan tersebut diharapkan semakin memperkuat hubungan bilateral kedua negara,” katanya.
Dengan komitmen kuat dari kedua belah pihak, Indonesia dan Australia optimistis kerja sama investasi akan menjadi fondasi baru dalam hubungan ekonomi. Selain memperkuat perdagangan, langkah ini diharapkan membuka peluang besar bagi pembangunan sektor strategis di Indonesia sekaligus mempererat kemitraan jangka panjang antarnegara tetangga.






