Fajarasia.id – Anggota Komisi XII DPR RI, Beniyanto, menyoroti dampak aktivitas pertambangan nikel terhadap masyarakat pesisir, khususnya para nelayan di Morowali. Hal ini ia sampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI bersama Direktur Utama PT Vale Indonesia Tbk di Gedung Nusantara, Senayan.
Beniyanto mengungkapkan adanya keluhan dari kelompok nelayan di zona pelabuhan dan laut Morowali yang melaporkan penurunan hasil tangkapan ikan. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan kegiatan bongkar muat bijih nikel. “Masyarakat melaporkan berkurangnya tangkapan ikan akibat aktivitas bongkar muat. Sosialisasi harus dilakukan dengan baik agar manfaat keberadaan PT Vale benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Selain persoalan nelayan, Beniyanto menekankan pentingnya pengelolaan produk samping dari aktivitas pertambangan nikel. Menurutnya, jika dikelola dengan baik, produk samping tersebut dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
“Keberadaan PT Vale di Morowali jangan hanya fokus pada nikel. Produk samping yang dihasilkan bisa dikembangkan menjadi industri baru, sehingga memberi nilai tambah bagi negara dan masyarakat. Dengan begitu, limbah nikel tidak lagi berserakan dan justru bisa dimanfaatkan,” tegasnya.
Beniyanto berharap ke depan pengelolaan produk samping nikel dapat dilakukan lebih terarah agar tidak menimbulkan dampak lingkungan negatif. Ia menekankan bahwa keberadaan industri tambang harus memberi manfaat ganda: menjaga kelestarian lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.




