Fajarasia.id – Pemerintah menargetkan implementasi biodiesel B50 segera berjalan, setelah sebelumnya sukses meluncurkan B35 pada 2024 dan B40 pada 2025. Program ini diyakini mampu mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak sekaligus menghemat devisa hingga Rp48 triliun.
Staf Ahli Bidang Konektivitas dan Pengembangan Jasa Kemenko Perekonomian, Dida Gardera, menyebut kebijakan pemanfaatan sawit untuk kebutuhan domestik terus diperkuat. “Efisiensi ini berasal dari pengurangan impor BBM, sementara produksi dalam negeri tetap terjaga,” ujarnya dalam rapat koordinasi RAN-KSB di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Selain mendukung kebutuhan energi, kinerja ekspor sawit tetap positif dengan nilai mencapai US$40 miliar pada 2025. Hilirisasi juga semakin kuat, di mana ekspor crude palm oil (CPO) kini hanya menyumbang sekitar 8% dari total ekspor, jauh menurun dibandingkan 2015.
Kontribusi industri sawit terhadap perekonomian nasional tercatat sekitar 3,5% dari PDB, sekaligus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan pekebun rakyat melalui perbaikan harga tandan buah segar (TBS).
Pemerintah menegaskan, penguatan tata kelola berkelanjutan melalui RAN-KSB dan sertifikasi ISPO akan menjadi landasan utama agar manfaat sawit tidak hanya dirasakan jangka pendek, tetapi juga mendukung ketahanan energi dan pangan nasional.****





