Fajarasia.id – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim hujan yang puncaknya diperkirakan terjadi pada waktu berbeda di setiap wilayah Indonesia hingga Juli 2027. Potensi hujan lebat diperkirakan dapat berdampak terhadap 113,8 juta orang.
Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan puncak musim hujan di Indonesia diperkirakan berlangsung bertahap, mulai akhir 2026 hingga pertengahan tahun depan.
“Di Sumatera ada puncak hujan akan terjadi di Desember maupun Januari. Di Pulau Jawa di Januari maupun Februari tahun 2027,” kata Berton dalam rilisnya, Rabu (28/10/2026).
Berdasarkan pemetaan BNPB, Sumatera diperkirakan mengalami puncak musim hujan pada Desember 2026 hingga Januari 2027. Sementara itu, Jawa diprediksi mencapai puncaknya pada Januari hingga Februari 2027.
Di wilayah Kalimantan, Bali, dan Nusa Tenggara, puncak musim hujan diperkirakan berlangsung pada Januari hingga Maret 2027. Papua menyusul pada Maret hingga April 2027.
Adapun Sulawesi diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Mei hingga Juni 2027, sedangkan Maluku diperkirakan mencapai puncaknya pada Juni hingga Juli 2027.
Perbedaan periode tersebut membuat kesiapsiagaan perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tingkat kerawanan masing-masing daerah. Hujan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan risiko banjir, tanah longsor, serta berbagai bencana hidrometeorologi lainnya.
BNPB juga memperingatkan potensi hujan lebat di sejumlah wilayah pada akhir 2026 hingga awal 2027. Potensi tersebut diperkirakan terjadi di 153 kabupaten/kota di Indonesia.
Menurut Berton, terdapat tiga provinsi yang masuk dalam status siaga hujan lebat. Kondisi ini menjadi perhatian karena potensi hujan pada periode tersebut diperkirakan dapat berdampak terhadap puluhan juta penduduk.
“Kami menyampaikan ada tiga provinsi yang siaga hujan lebat dan 113,8 juta orang bisa berpotensi terdampak akibat potensi hujan yang akan terjadi di penghujung tahun ini hingga di awal tahun,” ujar Berton.
Besarnya jumlah penduduk yang berpotensi terdampak menjadi pengingat pentingnya upaya mitigasi sejak dini. Pemerintah daerah diharapkan memperkuat kesiapan menghadapi kemungkinan bencana, terutama di kawasan yang memiliki riwayat banjir dan longsor.
Langkah antisipasi dapat dilakukan melalui pemantauan wilayah rawan, pemeriksaan saluran drainase, pembersihan lingkungan, serta penyiapan jalur evakuasi dan tempat pengungsian apabila diperlukan.
Masyarakat juga diimbau memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini dari instansi berwenang. Warga yang tinggal di sekitar sungai, lereng, dan kawasan rawan bencana perlu lebih waspada ketika hujan deras berlangsung dalam waktu lama.
Dengan periode puncak musim hujan yang berbeda di setiap wilayah, kesiapsiagaan tidak cukup dilakukan hanya menjelang akhir tahun. Upaya mitigasi perlu berlanjut hingga pertengahan 2027 agar risiko bencana dapat ditekan dan keselamatan masyarakat lebih terjaga.***





