Fajarasia.id – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai menyiapkan langkah menuju transformasi teknologi komunikasi perkeretaapian melalui kajian Future Railway Mobile Communication System (FRMCS), sistem komunikasi generasi baru berbasis teknologi 5G yang dirancang untuk mendukung operasional kereta api di masa depan.
Pembahasan tersebut dilakukan dalam Focus Group Discussion bertajuk FRMCS for Train Operation and Services Ultimate Solution di Jakarta Railway Center, Senin (12/10). Forum ini mempertemukan KAI, Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Kementerian Komunikasi dan Digital, akademisi, hingga pelaku industri telekomunikasi untuk membahas arah pengembangan sistem komunikasi perkeretaapian nasional.
Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI, I Gede Darmayusa, menegaskan bahwa pengembangan FRMCS harus berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan. Menurutnya, teknologi yang diterapkan harus memberikan nilai tambah terhadap keselamatan perjalanan, efisiensi operasional, dan keandalan layanan.
“Teknologi harus menjawab kebutuhan yang nyata. Karena itu, kajian FRMCS melihat berbagai kemungkinan pemanfaatannya, mulai dari komunikasi yang berkaitan dengan keselamatan, pengaturan perjalanan, pemeliharaan sarana dan prasarana, hingga kebutuhan dalam kondisi darurat,” ujar I Gede dalam keterangan yang diterima Selasa (13/10/2026).
Melalui kajian tersebut, KAI mengidentifikasi sejumlah kebutuhan yang dapat didukung FRMCS, mulai dari komunikasi antara petugas dan pusat kendali, pemantauan posisi kereta secara real time, pengelolaan perjalanan, pemantauan perlintasan, hingga penanganan gangguan dan kondisi darurat.
Menurut I Gede, sistem komunikasi yang berkaitan langsung dengan keselamatan perjalanan harus memiliki tingkat keandalan yang lebih tinggi dibandingkan layanan komunikasi umum.
“Informasi penting harus dapat tersampaikan secara cepat, aman, dan sesuai prioritas karena berkaitan dengan keselamatan operasi kereta api,” katanya.
Salah satu keunggulan FRMCS adalah kemampuannya mengintegrasikan berbagai kebutuhan komunikasi dalam satu jaringan dengan tingkat prioritas yang berbeda. Dengan demikian, komunikasi untuk keselamatan, operasional, maupun fungsi pendukung dapat berjalan lebih efektif dan terkelola.
Selain aspek teknologi, KAI juga menyoroti kesiapan spektrum frekuensi. Saat ini, pita frekuensi 1.900–1.910 MHz telah dicantumkan dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 8 Tahun 2026 sebagai alokasi untuk FRMCS dan teknologi lanjutan persinyalan kereta api. Namun, pemanfaatannya masih memerlukan serangkaian pengujian dan kajian lanjutan guna memastikan stabilitas komunikasi tanpa gangguan dari jaringan lain.
KAI menyadari bahwa sistem komunikasi perkeretaapian yang saat ini digunakan masih beragam, mulai dari teknologi analog hingga digital. Karena itu, proses transisi menuju FRMCS akan dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu layanan yang telah berjalan.
Kajian juga mencakup berbagai opsi pengelolaan jaringan, baik dibangun dan dioperasikan sendiri maupun melalui kerja sama dengan operator telekomunikasi. Seluruh skema akan dievaluasi dari sisi operasional, investasi, keamanan, biaya pengelolaan, hingga keberlanjutan penggunaan jangka panjang.
Ke depan, pengembangan FRMCS akan dimulai dari pemetaan kebutuhan dan kondisi eksisting, dilanjutkan dengan perancangan sistem, uji lapangan, proyek percontohan, hingga implementasi bertahap. KAI menegaskan bahwa seluruh proses masih berada pada tahap kajian awal dan akan terus dibahas bersama regulator serta pemangku kepentingan terkait.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa industri perkeretaapian nasional tengah bersiap memasuki era komunikasi digital yang lebih modern, dengan keselamatan dan keandalan operasional sebagai prioritas utama.****





