Fajarasia.id — Arab Saudi kini menghadapi dilema besar dalam merespons serangan kelompok Houthi di Yaman. Setiap opsi yang diambil kerajaan Teluk tersebut dinilai pakar akan membawa konsekuensi berat, baik secara militer maupun politik.
Mengutip CNN International, Selasa (15/9), pakar Yaman Mohammed Al-Basha menilai Riyadh hampir tak punya pilihan selain melancarkan balasan berskala besar. Eskalasi terbaru dipicu keberhasilan Houthi merebut Pulau Perim dan pelabuhan Mocha, langkah strategis untuk menguasai selat Bab al-Mandeb, jalur energi vital dunia. Tak lama berselang, pipa minyak Timur-Barat Saudi ditutup setelah dihantam drone dari Irak.
Meski militer Saudi terlihat unggul di atas kertas, peneliti Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri Cinzia Bianco menegaskan bahwa opsi perang habis-habisan justru berisiko menyeret Iran langsung ke medan konflik. Di sisi lain, jalur politik pun buntu. Houthi menegaskan akan terus menekan Saudi hingga blokade ekonomi di Yaman utara dihentikan.
Presiden AS Donald Trump menolak permintaan Putra Mahkota Saudi untuk serangan udara, meski Washington telah mengirim 100 penasihat militer guna mendukung intelijen. Mantan penasihat pemerintah Saudi Nawaf Obaid menekankan bahwa permintaan Riyadh sejatinya lebih pada dukungan intelijen ketimbang intervensi militer langsung.
Analis geopolitik Salman Al-Ansari menyebut balasan dari pemerintah Yaman yang didukung Saudi sudah di depan mata. “Riyadh kini mengharapkan masyarakat internasional mendukung penuh pembebasan Yaman dari milisi jahat ini,” ujarnya.****





