Kekuatan Negara Kini Ditentukan Mineral Strategis

Kekuatan Negara Kini Ditentukan Mineral Strategis

Fajarasia.id  — Ukuran kekuatan sebuah negara dinilai mulai berubah. Jika sebelumnya kepemilikan minyak, batu bara, dan gas menjadi salah satu penanda kekuatan ekonomi, kini penguasaan sumber daya mineral strategis dan teknologi pengolahannya semakin menentukan posisi sebuah negara.

Badan Industri Mineral (BIM) menilai logam tanah jarang (LTJ) menjadi salah satu komoditas yang berpotensi memainkan peran penting dalam persaingan ekonomi global di masa depan.

Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi BIM Yogi Wibisono Budhi mengatakan, Indonesia tidak cukup hanya memiliki cadangan mineral dalam jumlah besar. Penguasaan teknologi untuk mengekstraksi dan memisahkan unsur LTJ juga menjadi faktor penting.

“Kalau dalam masa yang dulu, sebuah negara akan dianggap kuat kalau dia punya minyak, batu bara, atau gas. Nah, tetapi itu dulu,” ujar Yogi dalam acara yang digelar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), dikutip Jumat (11/9/2026).

Menurut dia, perkembangan teknologi membuat mineral yang dapat diolah menjadi LTJ semakin strategis bagi kekuatan ekonomi suatu negara.

Kebutuhan mineral strategis diperkirakan terus bertambah seiring dengan perkembangan kendaraan listrik dan energi terbarukan.

Mengacu pada data International Energy Agency (IEA) yang dikutip BIM, kebutuhan mineral untuk kendaraan listrik dapat meningkat hingga enam kali lipat. Sementara itu, kebutuhan mineral untuk pembangkit listrik tenaga angin darat mencapai sembilan kali lipat dibandingkan pembangkit berbasis gas.

Sejumlah unsur LTJ, seperti neodymium (Nd), praseodymium (Pr), dysprosium (Dy), terbium (Tb), dan yttrium (Y), dibutuhkan dalam pembuatan magnet permanen yang digunakan pada motor kendaraan listrik dan turbin angin.

Karena itu, persaingan antarnegara kini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan siapa yang memiliki cadangan mineral paling besar, tetapi juga siapa yang mampu membangun rantai pasok dari hulu hingga hilir.

“Persaingan global ini telah bergeser dari sekadar mempunyai cadangan, walaupun jumlahnya banyak, kemudian bergeser menuju bagaimana supply chains ini bisa dibangun,” kata Yogi.

Indonesia memiliki potensi LTJ yang berasal dari berbagai sumber, mulai dari sumber primer hingga sumber sekunder. Potensi tersebut antara lain ditemukan pada sisa pembakaran lebih dari 250 PLTU serta limbah elektronik.

Namun, besarnya potensi tersebut perlu diikuti kemampuan pengolahan di dalam negeri. Jika Indonesia hanya mengekspor bahan mentah lalu mengimpor kembali produk jadi, nilai tambah yang seharusnya diperoleh dari proses pengolahan dapat hilang.

BIM karena itu mendorong percepatan riset dan pengembangan teknologi untuk mengolah mineral strategis, termasuk LTJ.

Yogi menekankan bahwa hilirisasi tidak seharusnya berhenti pada pembangunan fasilitas pengolahan atau masuknya investasi.

“Kalau kita lihat dari mata rantai dari hulu hingga ke hilir ini, hilirisasi yang sejati itu sebenarnya adalah hilirisasi teknologi,” ujarnya.

Menurut dia, penguasaan teknologi oleh sumber daya manusia dalam negeri menjadi bagian penting agar Indonesia tidak hanya menjadi lokasi industri, tetapi juga mampu menguasai teknologi pengolahan mineral strategis.

“Bagaimana penguasaan teknologi ini betul-betul bisa dilakukan oleh anak bangsa,” kata Yogi.****

Pos terkait