Fajarasia.id – Pemasangan pagar logam berukuran tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran di Jakarta maupun beberapa kota besar lainnya menjadi sorotan media internasional. Fenomena tersebut dinilai memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat, terutama terkait isu keamanan dan potensi aksi unjuk rasa.
Media Singapura, Channel News Asia (CNA), melaporkan bahwa dalam beberapa hari terakhir pagar baja dengan tinggi sekitar dua hingga lima meter dipasang di sejumlah pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, hingga kantor bank milik negara di Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, dan Surakarta. Beberapa mal di ibu kota, seperti Kota Kasablanka, Blok M Plaza, dan FX Sudirman, termasuk yang terlihat memasang pagar pelindung di area pintu masuk.
Laporan tersebut juga menyoroti perbincangan di media sosial yang mengaitkan pemasangan pagar dengan kekhawatiran terhadap kemungkinan terulangnya aksi demonstrasi besar seperti yang terjadi pada Agustus 2025. Saat itu, gelombang unjuk rasa di sejumlah daerah sempat memicu penutupan sementara pusat perbelanjaan dan menimbulkan kerugian yang cukup besar.
Menanggapi berkembangnya spekulasi tersebut, Gubernur Jakarta Pramono Anung menegaskan kondisi ibu kota tetap aman dan berada dalam kendali pemerintah bersama aparat keamanan. Ia mengakui adanya kekhawatiran dari sebagian pelaku usaha, namun mengingatkan agar langkah antisipasi tidak justru menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Pramono mengatakan pemerintah provinsi terus berkoordinasi dengan kepolisian, TNI, dan berbagai instansi terkait untuk memastikan situasi keamanan tetap kondusif serta aktivitas masyarakat berjalan normal.
Senada dengan itu, Polda Metro Jaya menegaskan hingga saat ini belum terdapat indikasi ancaman keamanan maupun pemberitahuan resmi mengenai rencana aksi yang berpotensi mengganggu ketertiban. Aparat kepolisian juga terus meningkatkan patroli preventif di wilayah Jakarta dan kawasan penyangga, seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang.
Di sisi lain, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) membantah anggapan bahwa pemasangan pagar dilakukan sebagai langkah mengantisipasi kerusuhan. Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja menjelaskan, keberadaan pagar lebih ditujukan untuk mengatur arus keluar-masuk pejalan kaki, meningkatkan keselamatan pengunjung, sekaligus memperlancar sirkulasi kendaraan di sekitar pusat perbelanjaan.
Penjelasan serupa disampaikan Pakuwon Group. Direktur Pemasaran perusahaan tersebut, Sutandi Purnomosidi, menyebut pagar yang dipasang merupakan bagian dari sistem pengamanan dan penataan kawasan, bukan sebagai respons terhadap isu demonstrasi.
Seiring penjelasan dari pemerintah dan aparat keamanan, sejumlah pengelola pusat perbelanjaan mulai membongkar pagar yang sebelumnya dipasang. Salah satunya Kota Kasablanka di Jakarta Selatan yang telah mencabut pagar logam di area akses utama pejalan kaki setelah situasi dinilai tetap kondusif.****





