Fajarasia.id – Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin mendukung arahan Presiden Prabowo Subianto kepada para perwira remaja TNI dan Polri agar menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas loyalitas terhadap korps maupun satuan.
Menurut politikus Fraksi PDI Perjuangan itu, setiap prajurit TNI sejak awal dididik sebagai tentara nasional yang mengabdikan diri kepada negara dan rakyat, bukan kepada institusi atau kesatuan tempat mereka bertugas.
“Dalam doktrin yang disampaikan kepada seluruh prajurit TNI dan Polri, saya tekankan pada TNI, mereka adalah Tentara Nasional. Artinya mereka berjuang dan mengabdi untuk negara, bukan mengabdi untuk satuannya. Sehingga dia dituntut loyalitasnya hanya kepada negara,” kata TB Hasanuddin, Minggu (26/7/2026).
Ia menjelaskan, doktrin tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun profesionalisme prajurit. Loyalitas kepada negara dinilai harus menjadi prinsip utama agar setiap anggota TNI menjalankan tugas secara objektif dan tidak terpengaruh kepentingan kelompok tertentu.
Menurut TB Hasanuddin, apabila kesetiaan lebih diarahkan kepada satuan atau korps, terdapat risiko munculnya loyalitas yang berlebihan kepada atasan maupun kelompok, sehingga dapat menggeser orientasi pengabdian kepada negara.
Ia mengingatkan bahwa seluruh proses pendidikan hingga gaji prajurit berasal dari negara yang dibiayai oleh rakyat. Karena itu, setiap anggota TNI memiliki tanggung jawab moral untuk mengabdi sepenuhnya kepada kepentingan masyarakat.
“Presiden mengingatkan bahwa kalian itu adalah prajurit TNI yang dibiayai oleh rakyat mulai dari pendidikan, digaji oleh rakyat, sehingga dituntut kesetiaan itu hanya pada rakyat,” ujarnya.
TB Hasanuddin menilai pesan Presiden Prabowo sangat relevan bagi para perwira remaja yang baru memulai karier militer. Menurutnya, mereka akan menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan tugas sehingga harus memiliki komitmen yang kuat terhadap kepentingan bangsa.
Ia juga mengingatkan agar para perwira tidak terjebak dalam fanatisme korps yang berlebihan. Sikap tersebut, menurutnya, berpotensi mengaburkan objektivitas seorang prajurit dalam menjalankan tugas.
“Kalau terlalu mengagung-agungkan korps, itu nanti menjadi gelap mata, sehingga sering terjadi para perwira muda membela korps dengan buta,” katanya.
TB Hasanuddin menambahkan, loyalitas korps yang tidak terkendali dapat memicu konflik antarsatuan, mulai dari perselisihan hingga bentrokan bersenjata, yang pada akhirnya merugikan institusi dan negara.
“Sehingga terjadi perkelahian, tembak-menembak dengan korps lain. Untuk apa? Tidak ada gunanya. Yang rugi kan negara,” tegasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan arahan kepada para perwira remaja TNI dan Polri dalam Upacara Prasetya Perwira (Praspa) di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (22/7/2026). Dalam kesempatan tersebut, Presiden menekankan pentingnya menjaga profesionalisme, memperkuat soliditas, serta memastikan tidak ada loyalitas korps yang melampaui kepentingan bangsa, negara, dan rakyat Indonesia.***





