Yaman Memanas! Retaknya Koalisi Arab Saudi–UEA, Pasukan Selatan Membangkang

Yaman Memanas! Retaknya Koalisi Arab Saudi–UEA, Pasukan Selatan Membangkang

Fajarasia.id  – Konflik di Yaman kembali mencapai titik panas setelah keretakan antara dua kekuatan besar Timur Tengah, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), semakin nyata. Pasukan di wilayah selatan Yaman menolak bergabung di bawah komando tunggal koalisi pimpinan Riyadh, memicu kekhawatiran akan eskalasi baru dalam perang berkepanjangan.

Mengutip laporan AFP, Wakil Presiden Dewan Transisi Selatan (STC), Faraj Al Bahsani, menegaskan bahwa penyatuan pasukan di bawah bendera koalisi Saudi adalah hal yang mustahil.

“Pasukan selatan, baik yang berafiliasi dengan STC, pasukan di Hadramawt, maupun kekuatan lainnya, tidak akan menerima hal ini,” ujar Bahsani.

Bahsani, yang kini berada di UEA untuk menjalani perawatan medis, dikenal sebagai mantan gubernur Hadramawt—provinsi kaya minyak yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Wilayah tersebut menjadi titik sengketa panas setelah sempat dikuasai STC sebelum akhirnya direbut kembali oleh pasukan pro-Saudi.

Penolakan STC muncul sehari setelah Ketua Dewan Kepresidenan Yaman, Rashad Al Alimi, mengumumkan bahwa seluruh kekuatan militer di Yaman Selatan akan beroperasi di bawah komando koalisi pimpinan Saudi. Pernyataan ini semakin memperuncing ketegangan, terlebih setelah pasukan pro-Saudi berhasil merebut kembali sejumlah wilayah yang sebelumnya dikuasai kelompok pro-UEA.

Pada Desember lalu, STC sempat mencaplok dua provinsi utama, memperlihatkan betapa tajamnya persaingan pengaruh antara Riyadh dan Abu Dhabi di Yaman.

Situasi ini menegaskan adanya rivalitas yang semakin terbuka antara Arab Saudi dan UEA, dua sekutu yang selama ini sama-sama terlibat dalam koalisi melawan pemberontak Houthi. Ketegangan internal ini dikhawatirkan akan memperkeruh konflik yang sudah berlangsung sejak 2014, ketika kelompok Houthi yang didukung Iran mengambil alih ibu kota Sana’a.

Pos terkait