Fajarasia,id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebut negara mengalami kerugian sebesar Rp180 triliun lantaran satu juta warga negara Indonesia (WNI) masih memilih berobat ke luar negeri. Jokowi mencatat sejumlah negara yang menjadi negara tujuan, yakni Malaysia, Singapura, Jepang, Korea, Eropa, dan Amerika.
Dokter spesialis jantung RS Harapan Kita, Jakarta, Sunu Budhi Raharjo mengatakan tidak meratanya fasilitas kesehatan dan layanan kesehatan menyebabkan masyarakat Indonesia lebih memilih berobat ke luar negeri. Seperti masyarakat yang tinggal di wilaya Sumatera bagian utara.
“Jika ingin berobat ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap, seperti Jakarta jaraknya jauh. Jadi mereka lebih memilih ke Singapura atau Malaysia,” katanya saat dihubungi, Minggu (28/4/2204).
Namun, Sunu juga mengakui faktor lain yang menyebabkan WNI berobat ke luar negeri adalah soal rata-rata kualitas penyedia pelayanan kesehatan (Health Provider) yang tidak lebih baik dari yang ada di luar negeri.
“Health provider adalah para dokter, perawat, tehnisi kesehatan, serta bagian lain yang terkait dengan pelayanan kesehatan. Meskipun di beberapa RS berdasarkan testimoni dari pasien yang berobat ke luar negeri, ternyata kualitasnya lebih baik,” tambahnya.
Faktor lain yang menyebabkan banyaknya orang yang berobat ke luar, katanya, soal jaminan kesehatan yang ada tidak mencakup semua penyakit yang diderita pasien untuk bisa ditangani. Seperti BPJS kesehatan, katanya, yang memiliki keterbatasan bisa menanggung penyakit tertentu.
“Hal ini, tentu saja bagi orang berduit menjadi hambatan tersendiri. Bisa saja mereka kemudian memilih berobat ke luar negeri karena dari hitungan biaya pengobatan di luar yang tak ditanggung asuransi kesehatan ternyata lebih murah dan lebih baik,” sambungnya.
Sunu juga tak membantah soal jumlah dokter spesialis yang disebut Presiden Jokowi masih sangat kurang. Menurutnya, hal ini juga bisa menjadi salah satu faktor orang berobat keluar negeri.
“Contohnya, pasien mungkin harus menunggu lebih lama untuk dilayani dokter spesialis karena pasiennya banyak. Akhirnya memilih keluar negeri karena merasa dapat lebih cepat ditangani. Namun, di bergagai daerah sebenarnya sudah banyak dokter spesialis dan sub spesialis,” sebut Sunu.
Presiden Jokowi mengaku masih memaklumi pilihan sejumlah masyarakat yang berobat ke luar negeri. Pasalnya, fasilitas dan pelayanan kesehatan di Indonesia belum maksimal. Oleh sebab itu, ia menginginkan agar penguatan industri kesehatan terus dilakukan. Ia mencatat 90 persen bahan produksi farmasi masih impor, 52 persen alat kesehatan juga masih impor.
Presiden juga menyoroti minimnya jumlah dokter spesialis di Indonesia. Ia pun mengutip data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2019 yang mencatatkan rasio dokter spesialis di Indonesia hanya 0,47 per 1.000 penduduk. Jokowi menilai kondisi itu menjadi salah satu masalah terbesar bagi dunia kesehatan nasional.***





