SWICC Bermitra dengan BPJS Memberikan Pelayanan Kanker

SWICC Bermitra dengan BPJS Memberikan Pelayanan Kanker

Fajarasia.id – Berkomitmen untuk menghadirkan harapan baru bagi pasien kanker dan keluarga, Sentra Medika Hospital Group memberikan layanan kanker terpadu. Layanan kanker Suherman Widyatomo Integrated Cancer Center (SWICC) didukung lebih dari 40 dokter spesialis dari berbagai bidang terintegrasi.

SWICC memberikan layanan, edukasi serta deteksi dini kanker, pemeriksaan riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik masyarakat. Masyarakat diajarkan bagaimana cara mendeteksi penyakit atau kondisi kesehatan tertentu pada tahap awal, bahkan sebelum gejala muncul.

Banyaknya dokter spesialis pada layanan kanker di SWICC ini sejalan dengan yang dikatakan oleh Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti. Ia menyayangkan banyak masyarakat Indonesia yang berobat di luar negeri.

“Banyak masyarakat kita yang berobat di Singapura, Penang karena kecepatan dan ketepatannya dalam mengobati pasien dan juga biaya yang murah. Saya percaya dan yakin dengan banyaknya dokter spesialis di SWICC ini kita tidak kalah bagus seperti mereka,” ucap Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti pada pidato peresmian SWICC, Senin (14/7/2025) di Cibinong.

Lebih lanjut dia mengatakan biaya anggaran kesehatan seluruh Indonesia tahun 2024 sebesar Rp614 triliun. Di mana BPJS menghabiskan Rp214 triliun di tahun 2025 sedangkan Rp400 triliun masih belum terjamah.

Ali berharap dengan Public Private Partnership (PPP) antara SWICC dan BPJS bisa menyerap anggaran kesehatan sebesar Rp175 triliun. Dia juga ingin agar ke depannya masyarakat tidak perlu lagi berobat di luar negeri.

“Rp175 triliun uang kita dibawa keluar Singapura dan Penang karena masyarakat berobat di sana. Dulu sewaktu saya masih dekan di kedoteran, Indonesia banyak menerima mahasiswa dari Malaysia, Myanmar, Jerman untuk dididik Indonesia untuk menjadi dokter,” katanya.

“Kok sekarang keterbalikan malah kita kirim pasien keluar. Saya berharap dengan adanya Private Partnership (PPP) Rp175 triliun itu tidak perlu keluar dari Indonesia.”.****

Pos terkait